Mengapa Menguap Bisa Menular Ini Penjelasan Ilmiahnya

M Firman Syah • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 16:47 WIB
Ternyata, kebiasaan ikut menguap saat melihat orang lain melakukannya bukan cuma sekadar tertular! Foto: Ist.
Ternyata, kebiasaan ikut menguap saat melihat orang lain melakukannya bukan cuma sekadar tertular! Foto: Ist.

Radar Surabaya – Pernah merasa tiba-tiba ikut menguap setelah melihat teman, anggota keluarga, atau bahkan orang asing menguap? Fenomena tersebut merupakan hal yang umum terjadi. Bahkan, sekadar membaca atau memikirkan tentang menguap terkadang sudah cukup memicu refleks serupa.

Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai contagious yawning atau menguap menular. Fenomena tersebut telah lama menjadi perhatian para peneliti karena berkaitan dengan cara kerja otak dan interaksi sosial manusia.

Salah satu penjelasan ilmiahnya berkaitan dengan peran sel saraf cermin (mirror neurons). Saat seseorang melihat orang lain menguap, sel saraf cermin di otak akan aktif dan mengirimkan sinyal untuk meniru tindakan tersebut. Proses ini berlangsung secara otomatis dan termasuk dalam kategori echophenomena, yaitu refleks meniru gerakan atau perilaku orang lain tanpa disadari.

Selain faktor neurologis, menguap yang menular juga dikaitkan dengan empati dan kedekatan emosional. Sejumlah penelitian menunjukkan seseorang cenderung lebih mudah tertular menguap dari orang yang memiliki hubungan dekat, seperti anggota keluarga atau sahabat, dibandingkan dengan orang yang tidak dikenal.

Respons tersebut terjadi karena mekanisme social mirroring atau peniruan sosial bekerja lebih aktif pada individu yang memiliki tingkat empati tinggi. Fenomena serupa tidak hanya ditemukan pada manusia, tetapi juga pada sejumlah hewan sosial seperti simpanse, monyet, dan anjing.

Secara biologis, menguap merupakan refleks alami tubuh yang diduga membantu mendinginkan suhu otak sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Ketika terjadi secara berkelompok, refleks ini diyakini berperan menyelaraskan tingkat kesiagaan dan pola aktivitas anggota kelompok.

Meski masih terus diteliti, para ilmuwan sepakat bahwa menguap bukan sekadar tanda mengantuk. Refleks ini merupakan bagian dari mekanisme biologis dan sosial yang menunjukkan keterkaitan antara fungsi otak, empati, serta perilaku manusia dalam berinteraksi. (nor/fir)

Editor : M Firman Syah
menguap otak manusia mirror neurons empati kesehatan