RADAR SURABAYA – Di tengah dinamika kehidupan yang semakin cepat dan penuh tekanan, istilah overthinking atau berpikir berlebihan kian akrab di telinga masyarakat. Meski kerap dianggap sebagai hal yang wajar, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, kualitas hidup, hingga produktivitas seseorang.
Overthinking merupakan kondisi ketika seseorang terus-menerus memikirkan suatu persoalan secara berlebihan, baik terkait penyesalan atas peristiwa di masa lalu maupun kecemasan terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi di masa depan. Berbeda dengan proses berpikir yang bertujuan mencari solusi, overthinking justru membuat seseorang terjebak dalam lingkaran pikiran negatif sehingga sulit mengambil keputusan atau bertindak.
Berdasarkan informasi dari Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu seseorang mengalami overthinking. Di antaranya rasa takut gagal, sifat perfeksionis, rendahnya kepercayaan diri, pengalaman traumatis di masa lalu, serta tekanan sosial dan ketidakpastian yang memunculkan kekhawatiran berlebihan terhadap penilaian orang lain.
Apabila dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari stres berkepanjangan, gangguan kecemasan (anxiety), sulit tidur, hingga menurunnya produktivitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pada kondisi yang lebih berat, overthinking juga dapat meningkatkan risiko depresi dan membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial.
Untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan, para pakar menyarankan sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri. Salah satunya dengan menyediakan waktu untuk diri sendiri (me time) sebagai sarana refleksi, mengalihkan fokus pada aktivitas yang menyenangkan, serta rutin melakukan meditasi atau beristirahat sejenak dari berbagai distraksi selama 15–30 menit setiap hari agar pikiran menjadi lebih tenang.
Apabila overthinking mulai mengganggu aktivitas, hubungan sosial, maupun kualitas hidup, masyarakat disarankan segera mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor. Pendampingan tenaga profesional dapat membantu seseorang memahami akar permasalahan, mengelola pikiran negatif, serta membangun strategi yang lebih sehat dalam menghadapi tekanan hidup. (nor/fir)
Editor : M Firman Syah