RADAR SURABAYA – Matcha menjadi salah satu minuman yang terus populer di berbagai kafe. Meski memiliki banyak penggemar, tak sedikit orang yang menganggap minuman berwarna hijau ini memiliki rasa dan aroma yang mirip rumput. Anggapan tersebut ternyata bukan sekadar candaan. Secara ilmiah, karakter rasa matcha memang dipengaruhi oleh proses budidaya hingga cara pengolahannya yang berbeda dengan teh hijau pada umumnya.
Sebelum dipanen, tanaman teh yang akan diolah menjadi matcha ditanam di bawah naungan selama beberapa minggu. Proses ini membatasi paparan sinar matahari sehingga tanaman menghasilkan lebih banyak klorofil. Kandungan klorofil yang tinggi membuat daun teh memiliki warna hijau lebih pekat sekaligus menghadirkan aroma segar yang bagi sebagian orang menyerupai rumput yang baru dipotong.
Selain proses budidaya, cara mengonsumsi matcha juga memengaruhi cita rasanya. Berbeda dengan teh hijau yang hanya diseduh, matcha dibuat dari daun teh utuh yang dikeringkan, digiling menjadi bubuk halus, lalu dikonsumsi seluruhnya.
Karena seluruh bagian daun ikut diminum, kandungan katekin, antioksidan, serta senyawa alami lainnya terasa lebih kuat. Hal itu menghasilkan cita rasa pahit, sepat, dan umami yang khas, sekaligus meninggalkan sensasi segar yang tidak ditemukan pada teh biasa.
Kualitas matcha juga menjadi faktor yang memengaruhi persepsi rasa. Matcha premium umumnya memiliki rasa lebih lembut dengan sedikit sentuhan manis alami, sedangkan matcha berkualitas rendah cenderung lebih pahit sehingga kesan "rasa rumput" terasa lebih dominan.
Selain itu, lidah yang belum terbiasa dengan minuman herbal tanpa banyak pemanis juga membuat sebagian orang mengasosiasikan rasa tersebut dengan rumput atau dedaunan segar. Di sisi lain, justru karakter rasa autentik itulah yang menjadi daya tarik bagi para pencinta matcha. Cita rasa alami tersebut menandakan tingginya kandungan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Pada akhirnya, apakah matcha terasa nikmat atau justru mirip rumput sangat bergantung pada kualitas produk yang digunakan serta preferensi masing-masing penikmatnya. (nor/fir)
Editor : M Firman Syah