RADAR SURABAYA – Mengunyah es batu kerap menjadi kebiasaan yang dianggap sepele, terutama saat cuaca panas. Sensasi dingin dan renyah memang memberikan rasa segar. Namun, di balik kebiasaan tersebut, terdapat sejumlah risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan.
Dalam dunia medis, kebiasaan mengunyah es batu dikenal sebagai pagofagia, yakni salah satu bentuk gangguan makan pica. Kondisi ini ditandai dengan dorongan mengonsumsi benda yang tidak memiliki nilai gizi dan dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan tertentu.
Berikut lima alasan mengapa kebiasaan mengunyah es batu sebaiknya dihindari.
Baca Juga: Awas, Ini Dampak Konsumsi Es Batu Bening dalam Waktu Lama
1. Berisiko Merusak Gigi
Es batu yang keras dapat mengikis enamel atau lapisan pelindung gigi. Jika dilakukan terus-menerus, kondisi ini membuat gigi menjadi lebih sensitif terhadap makanan atau minuman panas maupun dingin. Bahkan, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan gigi retak atau merusak tambalan gigi.
2. Meningkatkan Risiko Infeksi
Kebersihan es batu juga perlu diperhatikan. Apabila dibuat dari air yang tercemar atau disimpan dalam kondisi kurang higienis, es batu dapat menjadi media penularan bakteri, virus, maupun parasit penyebab penyakit seperti diare, demam tifoid, hepatitis A, kolera, hingga shigellosis.
3. Mengganggu Sistem Pencernaan
Mengonsumsi es batu dalam jumlah berlebihan dapat memicu gangguan pada saluran pencernaan. Suhu yang sangat dingin berpotensi menyebabkan kram perut, rasa melilit, serta ketidaknyamanan, terutama pada orang yang memiliki lambung sensitif.
Baca Juga: Pamit Beli Es Batu, Pedagang Es Degan Larikan Motor Juragan di Kenjeran
4. Bisa Menjadi Tanda Anemia Defisiensi Besi
Dorongan kuat untuk mengunyah es batu juga dapat menjadi gejala anemia defisiensi besi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penderita anemia kerap merasa lebih segar setelah mengunyah es batu karena sensasi dingin tersebut diduga membantu meningkatkan kewaspadaan untuk sementara waktu.
5. Berkaitan dengan Gangguan Psikologis
Selain dipicu kekurangan zat besi, pagofagia juga dapat berkaitan dengan kondisi psikologis, seperti stres, kecemasan, hingga gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Pada sebagian orang, mengunyah es batu menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dari tekanan emosional yang sedang dialami.
Baca Juga: Tak Hanya Lezat, Daging Kepiting Kaya Protein dan Baik untuk Kesehatan Jantung
Penanganan kebiasaan ini harus disesuaikan dengan penyebabnya. Jika dipicu anemia, perbaikan pola makan kaya zat besi serta konsumsi suplemen sesuai anjuran dokter dapat menjadi solusi. Sementara itu, apabila berkaitan dengan faktor psikologis, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu mengatasi akar permasalahan.
Masyarakat juga dianjurkan segera memeriksakan diri apabila kebiasaan mengunyah es batu disertai gejala lain, seperti kulit pucat, kuku rapuh, mudah lelah, atau mulut kering. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat. (nor/fir)
Editor : M Firman Syah