Radar Surabaya – Tugas yang sudah diberikan jauh-jauh hari sering kali baru dikerjakan ketika waktu pengumpulan tinggal beberapa hari, bahkan beberapa jam lagi. Fenomena ini cukup akrab di kalangan generasi muda yang harus membagi perhatian antara kuliah, pekerjaan, organisasi, hingga aktivitas sosial lainnya.
Menariknya, semakin dekat tenggat waktu, sebagian orang justru merasa lebih termotivasi untuk bekerja. Fokus meningkat, rasa malas perlahan menghilang, dan dorongan untuk segera menuntaskan pekerjaan muncul secara tiba-tiba.
Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai prokrastinasi aktif. Berbeda dengan menunda karena tidak mampu atau tidak tahu harus memulai dari mana, prokrastinasi aktif terjadi ketika seseorang sengaja menunda pekerjaan karena merasa lebih produktif saat bekerja di bawah tekanan waktu.
Ketika deadline semakin dekat, tubuh juga memberikan respons alami. Tekanan waktu dapat memicu peningkatan hormon seperti adrenalin yang membuat seseorang lebih waspada dan fokus. Akibatnya, pekerjaan yang sebelumnya terasa berat justru dapat diselesaikan lebih cepat dibanding saat waktu masih longgar.
Fenomena ini sejalan dengan Temporal Motivation Theory (TMT) yang menjelaskan bahwa motivasi seseorang akan meningkat ketika batas waktu semakin dekat. Semakin sedikit waktu yang tersisa, semakin besar pula rasa urgensi untuk segera menyelesaikan pekerjaan.
Meski kerap dianggap ampuh meningkatkan produktivitas, kebiasaan tersebut tidak selalu berdampak positif. Terlalu sering mengandalkan tekanan deadline dapat memicu stres, mengurangi kualitas hasil pekerjaan, hingga menyebabkan kelelahan mental akibat pola kerja yang tidak teratur.
Karena itu, kemampuan mengelola waktu tetap menjadi faktor penting. Membagi pekerjaan menjadi beberapa tahap, menetapkan target-target kecil, serta memulai lebih awal dapat membantu tugas terselesaikan dengan lebih tenang tanpa harus menunggu deadline menjadi sumber motivasi utama. (rin/fir)
Editor : M Firman Syah