RADAR SURABAYA - Limbah pakaian berbahan denim yang selama ini kerap dipandang sebagai sisa produksi tak bernilai berhasil diubah menjadi busana berkelas oleh mahasiswa Universitas Ciputra (UC) Surabaya, Aurelia Theodora Tanoto. Aurelia memanfaatkan limbah denim dari sisa produksi kain untuk menciptakan karya fashion yang unik, elegan, sekaligus ramah lingkungan.
Inovasi tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap meningkatnya limbah denim pascaproduksi dalam industri fashion. Menurutnya, material sisa tersebut masih memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi produk bernilai tinggi.
Baca Juga: Radar Surabaya Award 2026, Apresiasi Rumah Sakit dan Klinik dengan Layanan Kesehatan Terbaik
"Saya mengubah limbah busana berbahan denim menjadi busana demi-couture dengan teknik jahit tangan. Saya juga menggunakan beberapa teknik seamless patchwork dan menambahkan beading agar tampil lebih menarik," ujar Aurelia, Senin (22/6).
Dia menjelaskan, limbah denim dipilih karena memiliki karakter material yang kuat dan daya tahan tinggi sehingga masih layak digunakan kembali.
"Saya melihat limbah denim ini memiliki nilai jual yang tinggi dan bisa dipakai kembali. Limbah ini merupakan sisa produksi penjual kain denim," tambahnya.
Dalam proses perancangannya, Aurelia menerapkan teknik seamless patchwork untuk menyatukan berbagai potongan denim tanpa menghilangkan karakter asli material daur ulang tersebut. Teknik ini menghasilkan tampilan yang harmonis sekaligus mempertegas identitas setiap potongan kain.
Tak hanya itu. Sentuhan beading dan pengerjaan detail secara manual membuat koleksi ini tampil layaknya busana demi-couture yang identik dengan eksklusivitas dan kualitas tinggi.
Baca Juga: Hujan Deras dan Pasang Laut Picu Genangan di Delapan Titik, Pemkot Surabaya Kerahkan 10 Rumah Pompa
Melalui pendekatan tersebut, Aurelia ingin mengubah persepsi masyarakat bahwa denim bekas tidak hanya cocok digunakan untuk busana kasual, tetapi juga dapat diwujudkan menjadi busana elegan dengan nilai artistik yang tinggi.
Koleksi ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan inovasi mampu menghadirkan solusi terhadap persoalan lingkungan, khususnya limbah tekstil yang terus meningkat setiap tahun. (sam)
Editor : Lambertus Hurek