Radar Surabaya – Istilah healing semakin populer di kalangan Generasi Z. Mulai dari nongkrong di kafe, menikmati suasana alam, hingga melakukan perjalanan singkat saat akhir pekan, berbagai aktivitas tersebut kerap dipilih sebagai cara untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas sehari-hari.
Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya kesadaran anak muda terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental. Padatnya aktivitas perkuliahan, pekerjaan, serta derasnya arus informasi di media sosial membuat banyak Gen Z merasa perlu menyediakan waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi emosional.
Baca Juga: Healing Lewat Hobi Masa Kecil, Tren Inner Child Gen Z Kian Populer
Bagi sebagian orang, healing menjadi kebutuhan psikologis untuk mengurangi stres dan menjaga keseimbangan hidup. Aktivitas tersebut tidak selalu identik dengan liburan mewah atau perjalanan jauh. Berbagai kegiatan sederhana yang mampu menghadirkan rasa nyaman dan ketenangan juga dapat menjadi bentuk healing.
Namun, perkembangan media sosial turut memengaruhi cara generasi muda memaknai aktivitas tersebut. Beragam unggahan tentang liburan, staycation, hingga aktivitas santai di tempat-tempat estetik membuat healing semakin lekat dengan citra gaya hidup yang menarik untuk dibagikan kepada publik.
Baca Juga: Libur Lebaran, Warga Tionghoa Surabaya Padati Gunung Kawi untuk Wisata Religi dan Healing
Kondisi tersebut kerap memunculkan dorongan untuk mengikuti tren yang berkembang. Tidak sedikit anak muda yang rela mengeluarkan biaya lebih demi mendapatkan pengalaman yang dianggap mampu memberikan ketenangan sekaligus meningkatkan eksistensi sosial di lingkungan pergaulan maupun media sosial.
Padahal, makna healing sesungguhnya tidak sebatas rekreasi atau mengikuti tren. Aktivitas ini bertujuan membantu seseorang mengelola tekanan emosional, memahami kondisi diri, serta memulihkan energi mental setelah menghadapi berbagai tantangan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Bukan Sekadar Healing, Gen Z Kini Berburu Wisata Berbasis Budaya Lokal
Karena itu, para ahli menilai penting bagi generasi muda untuk memahami esensi healing secara lebih mendalam. Dengan pemahaman yang tepat, aktivitas tersebut tidak hanya menjadi pelarian sesaat, tetapi juga dapat mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan diri dalam jangka panjang.
Fenomena healing menunjukkan bagaimana kebutuhan psikologis dan perkembangan tren sosial saling beririsan dalam kehidupan Generasi Z. Meski demikian, manfaat yang diperoleh akan lebih optimal jika aktivitas tersebut dilakukan sesuai kebutuhan diri, bukan semata-mata untuk memenuhi ekspektasi sosial. (rin/fir)