Radar Surabaya – Tidak semua orang yang berbicara terus terang bermaksud menyakiti perasaan orang lain. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, sikap blak-blakan kerap mendapat label kasar atau kurang memiliki tata krama, terutama di lingkungan masyarakat Jawa yang dikenal menjunjung tinggi kesopanan dalam berkomunikasi.
Belakangan, pembahasan mengenai gaya komunikasi masyarakat Jawa kembali ramai di media sosial. Banyak warganet menilai budaya Jawa lebih menekankan cara penyampaian dibanding isi pesan yang disampaikan. Karena itu, seseorang yang berbicara dengan bahasa halus sering dianggap lebih sopan, meski belum tentu memiliki pandangan yang sama dengan lawan bicaranya.
Baca Juga: Konsisten Bangun Komunikasi Berdampak, PNM Borong Penghargaan PRIA 2026
Dalam budaya Jawa, menjaga kerukunan menjadi salah satu nilai utama. Masyarakat terbiasa menghindari konflik terbuka dan memilih menyampaikan pendapat dengan ungkapan yang lebih halus. Tujuannya untuk menjaga hubungan sosial tetap harmonis serta menghindari perasaan tidak nyaman pada orang lain.
Di sisi lain, ada pula kelompok yang memilih berbicara lugas dan apa adanya. Mereka menilai keterusterangan dapat membuat pesan lebih jelas, efektif, dan mengurangi risiko kesalahpahaman. Namun, ketika gaya komunikasi tersebut bertemu dengan lingkungan yang sangat menjunjung unggah-ungguh, tidak jarang muncul anggapan bahwa sikap tersebut terlalu keras atau kurang menghargai perasaan orang lain.
Baca Juga: Kecewa Di-Grooming Ibu Kandung di Masa Lalu, Manohara Odelia Pinot Pilih Putus Komunikasi
Perbedaan cara pandang inilah yang membuat keterusterangan dan kesopanan sering diposisikan sebagai dua hal yang berlawanan. Padahal, keduanya tidak selalu bertentangan. Seseorang tetap dapat menyampaikan pendapat secara jujur tanpa harus menyinggung orang lain. Sebaliknya, bersikap santun juga tidak selalu berarti menyembunyikan apa yang sebenarnya dipikirkan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa cara berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat. Apa yang dianggap wajar di satu kelompok belum tentu diterima dengan cara yang sama di kelompok lain.
Baca Juga: Pameran ‘Long Street’ di Taman Budaya Jatim Hadirkan Perupa Lintas Generasi, Begini Pertimbangannya
Karena itu, memahami latar belakang budaya lawan bicara menjadi salah satu kunci membangun komunikasi yang efektif. Dengan pemahaman tersebut, perbedaan gaya berbicara tidak lagi menjadi sumber kesalahpahaman, melainkan bagian dari keberagaman cara masyarakat berinteraksi dan membangun hubungan sosial. (rin/fir)