RADAR SURABAYA – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat Indonesia khususnya terhadap kesehatan mental dan pola parenting yang lebih sadar membuat Stefani Gabriela menghadirkan buku perdananya.
Menurut content creator dan family storyteller asal Surabaya ini, semakin banyak orang tua muda di Surabaya dan seluruh Indonesia yang mulai mempertanyakan pola parenting yang mereka terima dan secara aktif mencari cara untuk membangun keluarga yang lebih sehat secara emosional.
Berjudul Setelah Aku Cut Off Warisan Trauma Keluarga, buku ini ditulis Stefani Gabriela berdasar pengalaman hidup.
“Buku ini bukan tentang membenci keluarga atau memutus hubungan. Buku ini tentang keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri, mengenali luka yang ada, dan memilih untuk tidak meneruskan rasa sakit itu kepada generasi berikutnya. Terutama kepada anak-anak kita,” ucapnya, Sabtu (13/6).
Buku ini, lanjut Stefani Gabriela, membahas perjalanannya dalam memahami luka batin (inner child), mengenali pola emosional yang diwarisi (emotional wounds), berdamai dengan masa lalu, serta proses menjadi “rantai terakhir” yang secara sadar memilih untuk menghentikan siklus tersebut.
“Banyak tema besar yang dibahas di Setelah Aku Cut Off Warisan Trauma Keluarga. Ada trauma keluarga, inner child, proses healing, overthinking, berdamai dengan masa lalu, dan upaya memutus pola yang telah diwariskan secara turun temurun,” tambahnya.
Dalam penulisannya, Stefani Gabriela melakukan pendekatan yang raw, relatable, dan jujur. Sehingga menjadikan bukunya berbeda dari literatur self-help pada umumnya. Dia juga tidak menawarkan solusi instan, melainkan menemani pembaca dalam proses yang sesungguhnya.
“Misi hidupku sederhana, creating the family I wish I had. Dan, aku percaya siapa pun bisa menjadi generasi pertama yang memilih keluarga yang berbeda. Lebih sadar, lebih sehat secara emosional, dan lebih penuh kasih. Bukan dengan menyalahkan masa lalu, melainkan dengan bertanggung jawab atas masa depan,” jelasnya.
Yang menarik, momen rilis bukunya dirangkai dengan acara Teman Curhat, yakni sebuah sesi sharing dan refleksi interaktif yang menghadirkan ruang aman bagi para pembaca untuk berbagi, berefleksi, dan merasakan bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan healing mereka.
Dia berharap melalui kolaborasi tersebut, setiap orang yang datang akan pulang dengan perasaan lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena mereka tahu mereka tidak sendirian.
Dalam perjalanan membahas isu-isu terkait keluarga dan pengasuhan, Stefani Gabriela kini tengah mengembangkan MOM WOW Indonesia, yakni sebuah media untuk ibu dan keluarga Indonesia yang lahir dari keyakinan bahwa setiap ibu berhak mendapat informasi, komunitas, dan ruang apresiatif untuk menemukan “WOW” dalam perjalanan masing-masing. (rul)
Editor : Lambertus Hurek