RADAR SURABAYA – Begadang telah menjadi kebiasaan yang semakin umum di tengah gaya hidup modern. Tuntutan pekerjaan, tugas kuliah, maraton serial favorit, hingga kebiasaan bermain media sosial membuat banyak orang rela memangkas jam tidur demi aktivitas yang dianggap lebih penting.
Padahal, kebiasaan tidur larut malam bukan sekadar menyebabkan kantuk keesokan harinya. Dalam jangka panjang, begadang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius yang berdampak pada kualitas hidup.
Salah satu dampak paling cepat dirasakan adalah menurunnya daya tahan tubuh. Saat tidur, tubuh memproduksi sitokin, yaitu protein yang berperan penting dalam melawan infeksi dan peradangan. Ketika waktu tidur berkurang, produksi sitokin dan antibodi juga ikut menurun.
Baca Juga: Scroll Media Sosial hingga Tengah Malam, Kebiasaan Begadang Gen Z Kian Marak
Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terserang berbagai penyakit, mulai flu, batuk, hingga infeksi virus lainnya.
Kurang tidur juga berpengaruh terhadap fungsi otak. Seseorang yang sering begadang cenderung mengalami penurunan konsentrasi, sulit fokus, serta daya ingat yang melemah. Respons tubuh terhadap berbagai aktivitas pun menjadi lebih lambat dibandingkan mereka yang memiliki waktu tidur cukup.
Dalam jangka panjang, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan kurang tidur dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan otak, termasuk demensia dan Alzheimer pada usia lanjut.
Tak hanya itu, begadang juga berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Banyak orang mengira terjaga lebih lama akan membakar lebih banyak kalori. Faktanya, kurang tidur justru mengganggu keseimbangan hormon leptin dan ghrelin yang mengatur rasa kenyang dan lapar.
Baca Juga: Kebiasaan Begadang Ancam Kesehatan Gen Z, Risiko Depresi hingga Diabetes Meningkat
Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah merasa lapar, terutama pada malam hari, sehingga mendorong konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat. Jika berlangsung terus-menerus, risiko obesitas pun meningkat.
Dampak lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Saat tidur, tubuh memanfaatkan waktu untuk memulihkan sistem peredaran darah dan menstabilkan tekanan darah. Ketika waktu istirahat terus dikurangi, jantung dipaksa bekerja lebih keras.
Baca Juga: Dampak Begadang bagi Remaja dan Tips Tidur Lebih Nyenyak
Akibatnya, risiko hipertensi, stroke, hingga serangan jantung menjadi lebih tinggi. Selain itu, kurang tidur juga dapat mengganggu sensitivitas insulin sehingga meningkatkan risiko diabetes.
Karena itu, menjaga pola tidur yang cukup menjadi salah satu investasi kesehatan paling sederhana namun penting. Membatasi penggunaan gawai sebelum tidur serta membiasakan tidur tepat waktu dapat membantu tubuh mendapatkan waktu pemulihan yang optimal setiap malam. (nor/fir)
Editor : M Firman Syah