RADAR SURABAYA – Confucius Institute Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berkolaborasi dengan Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) menggelar seminar budaya bertajuk Beijing Opera Drum Menyebarkan Musik Luhur Merayakan Kemegahan Festival Dragon. Kegiatan menghadirkan pakar seni Opera Peking asal Tiongkok, Pan Jingjing Laoshi.
Sekretaris Lembaga Pendidikan dan Sertifikasi Profesi (LPSP) Unesa, Anung Priambodo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Confucius Institute dalam melestarikan serta memperkenalkan budaya Tiongkok, sekaligus mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Tiongkok melalui jalur pendidikan dan seni.
Baca Juga: Bocah di Surabaya Datang ke Damkar dengan kursi plastik yang masih menempel di Tangan
“Kami berharap mahasiswa dapat mengenal dan tertarik pada Opera Peking yang ke depannya bisa menjadi bekal untuk berpartisipasi dalam kompetisi Chinese Bridge,” ujar Anung, Minggu (7/6).
Direktur Confucius Institute Unesa Dwi Lorry Juniarisca menjelaskan bahwa pengenalan budaya seperti ini merupakan bagian dari program rutin lembaganya, khususnya bagi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin. Pengenalan mendalam mengenai seni Opera Peking diharapkan mampu menumbuhkan minat mahasiswa untuk terus mendalaminya.
“Tujuan utama Confucius Institute adalah mengenalkan bahasa dan kebudayaannya. Melalui kegiatan ini kami ingin mahasiswa mengenal terlebih dahulu apa itu Peking Opera dan menumbuhkan minat mereka untuk mendalaminya,” jelas Dwi.
Pengenalan budaya ini juga disiapkan sebagai bekal mahasiswa untuk menghadapi ajang Chinese Bridge, yaitu kompetisi internasional bahasa dan budaya Tiongkok yang diselenggarakan setiap tahun.
Dekan FBS Unesa Syafi'ul Anam memberikan apresiasi tinggi atas sinergi yang terjalin antara Confucius Institute dan Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin. Menurutnya, pembelajaran bahasa tidak akan lengkap tanpa memahami konteks budayanya.
“Belajar bahasa tidak cukup hanya berbicara, membaca, menyimak, dan menulis. Mahasiswa juga perlu memahami budayanya. Melalui seni seperti Opera Peking ini, pemahaman lintas budaya mahasiswa akan semakin kuat,” tuturnya.
Ia menambahkan, kegiatan semacam ini berpotensi melahirkan talenta-talenta unggul yang nantinya dapat dipersiapkan untuk mewakili kampus dalam ajang kompetisi Chinese Bridge. Ia pun berharap program serupa dapat terus berlangsung secara berkelanjutan guna memberi ruang bagi mahasiswa mengembangkan bakat dan pengetahuan budaya.
Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang acara berlangsung. Salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2025, Javelyn Loveisa Harsono, mengaku sangat menikmati kegiatan ini karena memberikan pengalaman belajar yang baru dan langsung.
“Kegiatannya seru banget. Aku memang tertarik dengan budaya Tiongkok, terutama saat melihat mereka bernyanyi. Dari kegiatan ini aku jadi tahu proses dan tekniknya secara lebih dekat,” pungkasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek