RADAR SURABAYA - Fenomena siaran langsung atau live streaming di media sosial, khususnya TikTok, semakin marak dilakukan berbagai kalangan. Tidak hanya oleh selebritas nasional, tetapi juga konten kreator lokal yang memanfaatkan platform digital untuk menyalurkan bakat sekaligus memperoleh penghasilan tambahan.
Salah satu tren yang banyak ditemui adalah aktivitas bernyanyi secara langsung dengan membawakan lagu sendiri maupun meng-cover lagu milik penyanyi lain. Melalui fitur live, para kreator berharap mendapatkan gift atau hadiah virtual dari penonton yang kemudian dapat ditukarkan menjadi pendapatan.
Baca Juga: Polisi Tuban Viral Usai Berselisih dengan Pengamen Badut di Pinggir Jalan
Di Surabaya, kawasan Jalan Tunjungan menjadi salah satu lokasi favorit kreator untuk melakukan siaran langsung. Suasana ramai dan ikonik membuat jangkauan konten lebih luas dibandingkan ketika dilakukan dari dalam rumah.
Salah satu konten kreator yang rutin melakukan aktivitas tersebut adalah Brian Stefanus, pria kelahiran 1995 asal Kepulauan Aru, Maluku Tenggara. Selama setahun terakhir, ia hampir setiap hari tampil membawakan lagu-lagu khas Indonesia Timur melalui siaran langsung TikTok di kawasan Jalan Tunjungan.
Brian mengaku sudah enam tahun tinggal di Surabaya. Sebelum menetap di Kota Pahlawan, ia sempat menempuh pendidikan di Yogyakarta hingga lulus kuliah. Setelah sempat bekerja di kampung halamannya, ia kembali ke Surabaya untuk mengembangkan bakat di bidang seni.
“Saya merasa kalau di daerah asal agak sulit berkembang untuk dunia seni. Karena itu saya kembali ke Surabaya untuk mengembangkan bakat yang saya miliki,” ujarnya.
Ketertarikannya pada dunia musik berawal dari sang kakak yang gemar bernyanyi. Dari aktivitas sederhana itu, Brian mulai mencoba membuat konten musik hingga akhirnya terjun ke dunia live streaming sejak 2024.
Baca Juga: Pelatih Oman Tarik Sektioui Puji Taktik Indonesia Usai Kalah 0-3 di SUGBK
“Awalnya kakak saya sering bernyanyi di karaoke. Dari situ saya ikut dan kemudian disarankan untuk mencoba live menggunakan soundcard dari rumah. Kebetulan saya memang suka bernyanyi dan sering membagikan konten musik di YouTube,” katanya.
Menurut Brian, keputusan berpindah lokasi siaran ke ruang terbuka memberikan dampak signifikan terhadap jumlah penonton. Setelah mencoba beberapa lokasi seperti Kota Lama dan Taman Apsari, ia menilai Jalan Tunjungan memberikan performa terbaik.
“Di Tunjungan jangkauannya lebih luas karena merupakan pusat keramaian. Rating dan penyebaran kontennya lebih bagus dibandingkan tempat lain yang pernah saya coba,” ungkapnya.
Berbeda dengan tren musik yang sedang viral, Brian memilih tetap konsisten membawakan lagu-lagu Indonesia Timur sebagai ciri khasnya. Meski demikian, ia tetap melayani berbagai permintaan lagu dari penonton.
“Saya memang lebih dominan membawakan lagu Indonesia Timur. Tapi kalau ada yang meminta lagu Indonesia atau lagu Barat, saya tetap nyanyikan,” jelasnya.
Maraknya kreator yang bernyanyi di ruang publik kerap memunculkan anggapan bahwa aktivitas tersebut serupa dengan mengamen. Namun Brian memiliki pandangan berbeda.
Menurutnya, konsep yang dijalankan tidak sama dengan pengamen konvensional karena sumber pendapatan berasal dari hadiah virtual yang diberikan penonton melalui platform digital.
Baca Juga: Liverpool Tinggalkan Slot Demi Iraola, Analisis Ungkap Alasan The Reds Berani Bertaruh Besar
“Kalau ngamen biasanya orang memberi uang secara langsung. Saya justru menolak ketika ada yang ingin memberi uang tunai. Kalau mereka ingin mendukung, saya arahkan melalui akun TikTok berupa gift. Tujuan saya ke sini memang untuk live, bukan mengamen,” tuturnya.
Ia bahkan pernah mendapat teguran dari petugas Satpol PP yang mengira dirinya sedang mengamen. Namun setelah mengetahui aktivitas tersebut merupakan siaran langsung TikTok, teguran itu tidak berlanjut.(*)
Editor : Lambertus Hurek