Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Soe Tjen Marching Mudik ke Surabaya, Ajak Mahasiswa Bahas Novel 'Dari Dalam Kubur'

Lambertus Hurek • Selasa, 2 Juni 2026 | 17:15 WIB
Soe Tjen Marching PhD, akademisi, sastrawan, dan aktivis hak asasi manusia asal Surabaya. (IST)
Soe Tjen Marching PhD, akademisi, sastrawan, dan aktivis hak asasi manusia asal Surabaya. (IST)

 

 

RADAR SURABAYA -- Soe Tjen Marching PhD sedang mudik ke Surabaya. Dosen University of London, Inggris, itu tidak sekadar mudik, tetapi juga menyempatkan diri berbagi gagasan dan pengalaman melalui serangkaian diskusi buku di berbagai tempat.

Perempuan yang dikenal sebagai aktivis, penulis, dan pengamat isu sosial-politik tersebut diundang untuk melakukan bedah novel terbarunya, Dari Dalam Kubur, di Kampus Universitas Airlangga (Unair), C20 Library, serta sejumlah lokasi lain di Jawa Timur.

Baca Juga: Pameran Cross Musea Pertiwi 2026 di Museum Dr Soetomo Surabaya, Belajar Sejarah lewat Pameran Museum Berbasis Teknologi

Antusiasme peserta, terutama kalangan mahasiswa dan anak muda, membuat Soe Tjen merasa terharu. Ia melihat masih banyak generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah, kemanusiaan, dan berbagai peristiwa sosial-politik yang pernah membentuk Indonesia.

"Hari ini, diskusi novel Dari Dalam Kubur bersama saya di Unair sudah penuh. Jadi, bagi yang belum mendaftar, mohon jangan ke sana. Tapi akan ada temu penulis pada Kamis 4 Juni di C20 Library, Surabaya," ujar Soe Tjen di Surabaya, Selasa (2/6).

Novel Dari Dalam Kubur mengambil latar belakang peristiwa sosial-politik besar yang terjadi pada dekade 1960-an. Namun, Soe Tjen menegaskan bahwa karya tersebut merupakan sebuah novel fiksi, bukan buku sejarah.

Meski demikian, proses kreatif yang dilakukannya tidak dilakukan secara sembarangan. Untuk membangun cerita yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun akademik, ia melakukan riset panjang selama bertahun-tahun.

Soe Tjen mengaku mewawancarai banyak orang yang mengalami langsung berbagai peristiwa pada masa itu. Di antaranya aktivis perempuan, keluarga korban, hingga tokoh-tokoh yang menjadi saksi sejarah.

Baca Juga: Mantan DJ Rekrut Siswi SMP di Lampung, Dijadikan Terapis di Spa Ruko HR Muhammad Surabaya

Menurut dia, sastra memiliki kemampuan untuk menghadirkan sisi kemanusiaan dari sebuah peristiwa sejarah. Pembaca tidak hanya mengetahui fakta, tetapi juga dapat merasakan pergulatan batin, ketakutan, harapan, dan keteguhan para tokohnya.

Dalam berbagai diskusi, sejumlah peserta tampak aktif mengajukan pertanyaan. Mereka tidak hanya membahas isi novel, tetapi juga menyinggung hubungan antara sastra, sejarah, hak asasi manusia, serta pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa.

Bagi Soe Tjen, sambutan hangat dari generasi muda Surabaya menjadi kabar yang menggembirakan. Di tengah derasnya arus informasi digital, ia melihat masih ada ruang bagi buku dan diskusi intelektual untuk berkembang. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#Novel Dari Dalam Kubur #C20 Library #Universitas Airlangga Surabaya #Soe Tjen Marching PhD