Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bukan Sekadar Diam, Silent Treatment Bisa Merusak Pertemanan Gen Z

M Firman Syah • Selasa, 2 Juni 2026 | 15:13 WIB
 Ilustrasi hubungan pertemanan yang renggang akibat kurangnya komunikasi saat menghadapi konflik. Foto: ist.
Ilustrasi hubungan pertemanan yang renggang akibat kurangnya komunikasi saat menghadapi konflik. Foto: ist.

SURABAYA – Di era komunikasi serba cepat, membalas pesan dalam hitungan menit menjadi hal yang lumrah. Karena itu, ketika seseorang tiba-tiba menghilang, membiarkan pesan hanya berstatus terbaca, atau memutus komunikasi tanpa penjelasan, situasi tersebut sering memunculkan tanda tanya bagi orang di sekitarnya.

Fenomena tersebut dikenal sebagai silent treatment. Dalam hubungan pertemanan, terutama di kalangan Generasi Z, perilaku ini cukup sering terjadi sebagai respons terhadap konflik, kekecewaan, atau kesalahpahaman. Alih-alih menyampaikan perasaan secara terbuka, sebagian orang memilih diam dan menjaga jarak sebagai bentuk pelampiasan emosi.

Sekilas, cara tersebut terlihat sebagai langkah aman untuk menghindari pertengkaran yang lebih besar. Dengan mengambil jarak, seseorang merasa memiliki waktu untuk menenangkan diri dan mengendalikan emosi sebelum kembali berkomunikasi.

Namun, jika dilakukan tanpa penjelasan dan berlangsung terlalu lama, silent treatment justru berpotensi menimbulkan masalah baru. Hubungan yang sebelumnya baik dapat berubah menjadi renggang karena komunikasi yang terputus membuat kedua belah pihak kesulitan memahami akar persoalan.

Dampak yang paling sering muncul adalah kebingungan pada pihak yang didiamkan. Ketika pesan tidak dibalas dan komunikasi terhenti secara sepihak, seseorang cenderung bertanya-tanya mengenai kesalahan yang mungkin telah dilakukan. Ketidakjelasan tersebut sering kali memicu asumsi negatif yang memperburuk keadaan.

Selain itu, silent treatment dapat menimbulkan perasaan tidak dihargai. Seseorang yang terus-menerus diabaikan berisiko merasa dikucilkan atau tidak dianggap penting dalam lingkaran pertemanannya. Jika kondisi ini terus berlanjut, rasa percaya yang selama ini terbangun dapat perlahan memudar.

Hubungan pertemanan yang semula dekat pun bisa berubah menjadi canggung. Ketika komunikasi terputus dalam waktu lama, kedua pihak sering kesulitan untuk kembali memulai percakapan seperti sebelumnya. Akibatnya, konflik yang sebenarnya sederhana justru berkembang menjadi jarak emosional yang lebih sulit diperbaiki.

Meski demikian, mengambil jeda saat emosi sedang memuncak bukanlah hal yang salah. Memberi ruang untuk diri sendiri dapat menjadi cara sehat untuk menenangkan pikiran sebelum membahas persoalan secara lebih rasional.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana jeda tersebut dikomunikasikan. Menyampaikan bahwa seseorang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dinilai jauh lebih baik dibanding menghilang tanpa penjelasan. Cara tersebut membantu menghindari kesalahpahaman sekaligus menunjukkan rasa hormat kepada teman yang terlibat dalam konflik.

Pada akhirnya, komunikasi yang terbuka dan saling menghargai tetap menjadi kunci utama dalam menjaga hubungan pertemanan. Sebab, menyelesaikan masalah dengan dialog umumnya lebih efektif dibanding membiarkan diam berkepanjangan yang justru dapat meninggalkan luka dan merusak kedekatan yang telah terbangun. (rin/fir)

Editor : M Firman Syah
#pertemanan #kesehatan mental #Gen Z #komunikasi #lifestyle