SURABAYA – Kesadaran Generasi Z terhadap kesehatan mental terus meningkat. Salah satu tren yang kini banyak digemari adalah healing inner child, yakni upaya memahami dan memulihkan luka emosional yang berasal dari pengalaman masa kecil.
Dalam kajian psikologi, inner child merupakan bagian diri yang menyimpan berbagai kenangan, emosi, dan pengalaman masa kanak-kanak yang dapat memengaruhi pola pikir, sikap, hingga perilaku seseorang saat dewasa.
Tren ini berkembang seiring semakin terbukanya diskusi mengenai kesehatan mental di kalangan anak muda. Bagi Gen Z, healing tidak lagi sekadar identik dengan liburan atau rekreasi. Aktivitas tersebut juga menjadi sarana untuk mengurangi stres, mengelola kecemasan, dan menghadapi tekanan sosial yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: “Bed Rotting” Jadi Tren Self-Care Gen Z, Perlu Diwaspadai Dampaknya
Salah satu bentuk healing inner child yang banyak dilakukan adalah menghadirkan kembali kenangan masa kecil. Tidak sedikit anak muda yang membeli boneka, mainan, buku cerita, hingga aksesori lucu yang pernah mereka sukai saat kecil. Aktivitas tersebut dianggap mampu menghadirkan rasa nyaman sekaligus membangkitkan perasaan bahagia yang pernah dirasakan di masa lalu.
Selain itu, berbagai kegiatan sederhana juga menjadi pilihan untuk menjaga kesehatan mental. Mulai dari menonton film favorit masa kecil, mendengarkan lagu nostalgia, menulis jurnal harian, hingga meditasi dilakukan sebagai cara untuk menenangkan pikiran dan mengelola emosi.
Baca Juga: Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo Tetap Tekuni Hobi Fotografi meski Jadwal Makin Padat
Sebagian Gen Z bahkan mulai melakukan refleksi diri secara lebih mendalam. Mereka berupaya memahami pengalaman masa kecil yang masih membekas, menerima emosi yang pernah terabaikan, serta membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.
Meski semakin populer, para ahli mengingatkan bahwa healing inner child bukan sekadar tren gaya hidup yang diikuti sesaat. Proses pemulihan emosional membutuhkan kesadaran, konsistensi, dan waktu yang tidak singkat. Dalam kondisi tertentu, pendampingan profesional juga diperlukan agar proses penyembuhan dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Baca Juga: Hobi Positif, Kunci Sederhana Menjaga Kesehatan Mental
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap kesehatan mental. Jika sebelumnya isu psikologis kerap dianggap tabu, kini semakin banyak anak muda yang berani mengenali emosi, memahami diri sendiri, dan mencari cara sehat untuk menjaga keseimbangan hidup. (rra/fir)
Editor : M Firman Syah