Inkonsisten Bisa Rusak Kepercayaan Islam Ajarkan Pentingnya Istiqamah

M Firman Syah • Dipublikasikan Selasa, 19 Mei 2026 | 07:23 WIB
Manusia: Sikap tidak konsisten dinilai berdampak pada hubungan sosial dan keimanan.
Manusia: Sikap tidak konsisten dinilai berdampak pada hubungan sosial dan keimanan.

RADAR SURABAYA — Sikap inkonsisten sering dianggap sepele dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, perilaku tersebut dapat berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Kepercayaan orang sekitar juga bisa perlahan hilang karena sikap yang tidak konsisten.

Inkonsisten merupakan kondisi ketika ucapan seseorang berbeda dengan tindakan nyata yang dilakukan. Sikap tersebut membuat orang lain merasa bingung dan sulit mempercayai perkataan seseorang. Akibatnya, hubungan sosial dapat terganggu dalam jangka panjang.

Dalam ajaran Islam, perilaku inkonsisten termasuk sikap yang tidak terpuji. Islam mengajarkan pentingnya menjaga istiqamah dalam perkataan maupun perbuatan. Konsistensi dinilai menjadi bagian dari kejujuran dan tanggung jawab seseorang.

Baca Juga: Masjid Raudhatul Musyawaroh Jadi Jejak Sejarah Islam di Tengah Kota Surabaya

Orang yang mudah berubah pendirian biasanya dinilai sulit menjaga komitmen hidupnya. Sikap tersebut membuat hubungan dengan orang sekitar menjadi kurang harmonis. Tidak sedikit konflik muncul akibat ucapan dan tindakan yang saling bertentangan.

Selain itu, inkonsisten juga dapat memicu kesalahpahaman berkepanjangan dalam lingkungan sosial. Orang lain bisa menilai seseorang tidak memiliki ketegasan dalam bersikap. Reputasi seseorang pun dapat ikut terdampak karena perilaku tersebut.

Beberapa faktor disebut menjadi penyebab seseorang bersikap tidak konsisten. Salah satunya karena sulit mengendalikan emosi dan tekanan lingkungan sekitar. Kondisi tersebut membuat seseorang mudah berubah dalam mengambil keputusan.

Baca Juga: Jejak Ampel Denta, Nama Kuno yang Menghilang di Pusat Syiar Islam Surabaya

Ada pula orang yang bersikap inkonsisten karena takut menolak permintaan orang lain. Akibatnya, keputusan yang diambil sering bertentangan dengan prinsip awal yang diyakini. Sikap seperti itu dapat membuat seseorang kehilangan arah dan ketegasan.

Kurangnya kesadaran diri juga menjadi penyebab perilaku inkonsisten terus berulang. Seseorang terkadang tidak menyadari ucapan dan tindakannya saling bertolak belakang. Karena itu, evaluasi diri menjadi hal penting untuk memperbaiki sikap.

Dalam kehidupan sosial, inkonsisten dapat merusak reputasi dan hubungan pertemanan. Sekali kepercayaan hilang, biasanya akan sulit kembali seperti semula. Karena itu, menjaga konsistensi menjadi hal penting dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Asal Usul Warna Hitam Hajar Aswad dalam Sejarah Islam

Islam sendiri mengajarkan pentingnya menjaga amanah dan menepati janji. Sikap istiqamah dianggap sebagai bentuk komitmen dalam menjalani kehidupan. Nilai tersebut juga menjadi dasar untuk membangun hubungan sosial yang sehat.

Untuk menjaga konsistensi, seseorang perlu memiliki tujuan hidup yang jelas. Mengendalikan emosi dan melakukan evaluasi diri juga dinilai penting agar tidak mudah berubah sikap. Lingkungan pergaulan yang positif turut membantu seseorang tetap teguh pada prinsipnya.

Selain itu, berdoa dan memperbaiki diri secara perlahan menjadi langkah penting dalam menjaga istiqamah. Proses tersebut memang tidak selalu mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dengan komitmen yang kuat, seseorang dapat menjadi pribadi yang lebih konsisten dan dipercaya. (naa/fir)

 
Editor : M Firman Syah
istiqamah inkonsisten ajaran islam Hubungan Sosial kepercayaan