Setelah disambut dengan atraksi tarian tradisional yang penuh semangat, perhatian para pelancong ini langsung tertuju pada deretan ibu-ibu yang sedang sibuk dengan peralatan kayu sederhana di atas tanah.
Baca Juga: Haji 2026: Terungkap! Ini Alasan Kartu Nusuk Jemaah Haji Sering Hilang, Lansia Paling Terdampak
Satu per satu tahapan diperagakan dengan telaten. Mulai dari jemari yang lincah memintal kapas menjadi benang, proses pewarnaan alami yang khas, hingga dentuman kayu alat tenun saat menyatukan benang menjadi selembar Kwatek (kain sarung).
Proses panjang ini memicu decak kagum. "Melihat prosesnya yang begitu panjang dan serumit ini, tentu sangat masuk akal kalau harga kain asli dari Lembata bisa sangat mahal. Ini bukan sekadar kain, ini adalah karya seni yang lahir dari kesabaran," ujar salah seorang turis sambil tak henti-hentinya mengamati detail motif kain.
Namun, di balik keindahan itu, terselip kekhawatiran akan keberlanjutan tradisi ini. Yustina, warga kampung Mawa, mengungkapkan bahwa jumlah perempuan yang menekuni tenun ikat kian menyusut.
Baca Juga: Fraksi Gerindra DPRD Jatim Dorong Jawa Timur Inklusif Lewat Raperda Disabilitas
"Sangat terasa perbedaannya setelah tahun 2000 ke atas. Dulu tahun 80-an dan 90-an, suasana kampung sangat ramai dengan suara alat tenun di tiap rumah," kenang Yustina dengan nada getir.
Menurutnya, fenomena ini terjadi karena banyak generasi muda yang memilih hijrah ke kota-kota besar bahkan ke luar negeri seperti Malaysia, Batam, atau Jawa untuk menempuh pendidikan dan mencari kerja. Meski begitu, asa tetap ada.
Bagi para ibu di Pulau Lembata, menenun adalah cara mereka "bernapas" di tengah kepungan tugas rumah tangga—mulai dari memasak, mencuci, hingga memberi makan ternak. Setiap helai benang yang mereka ikat adalah simbol ketangguhan perempuan Lembata yang menolak membiarkan identitas budayanya lekang oleh waktu.(*)