Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sudah Kenyang Tapi Tetap Lapar Ternyata Ini Penyebabnya

M Firman Syah • Senin, 11 Mei 2026 | 16:48 WIB
Food noise : Keinginan makan terus muncul meski perut sudah kenyang.
Food noise : Keinginan makan terus muncul meski perut sudah kenyang.

RADAR SURABAYA – Fenomena food noise kini menjadi perhatian karena membuat seseorang terus memikirkan makanan meski tubuh sudah merasa kenyang. Kondisi ini sering muncul lewat kebiasaan melihat konten kuliner di media sosial, membuka aplikasi pesan makanan, hingga keinginan makan berulang tanpa rasa lapar yang nyata.

Dokter spesialis gizi klinik, dr Iflan Nauval, menjelaskan food noise menjadi tantangan besar bagi penderita obesitas yang sedang menjalani program penurunan berat badan. Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan kurang disiplin dalam mengatur pola makan.

Baca Juga: Konsistensi Jadi Kunci, Pola Makan Teratur Lebih Efektif Turunkan Berat Badan

Ia menyebut faktor biologis tubuh dan cara kerja otak memiliki peran besar dalam memicu keinginan makan terus-menerus. Salah satu yang paling berpengaruh ialah sistem dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan keinginan terhadap makanan tertentu.

Akibatnya, seseorang tetap merasa ingin makan meski kebutuhan energi tubuh sebenarnya sudah terpenuhi. Kondisi ini membuat sebagian orang sulit mengontrol pola makan sehari-hari.

Paparan visual makanan di media sosial, iklan kuliner, hingga aroma makanan juga dinilai dapat memperkuat food noise. Hal tersebut memicu rasa penasaran dan dorongan untuk mencoba makanan tertentu walaupun perut sudah kenyang.

“Nah ini yang harus kita kendalikan, namanya dopamin. Ini yang harus kita turunkan supaya food noise tidak mengganggu kehidupan sehari-hari,” ujar dr Iflan.

Baca Juga: Enam Penyakit yang Sering Kambuh Usai Lebaran, Jaga Pola Makan Agar Terhindar dari Gangguan Kesehatan

Untuk membantu mengendalikan kondisi tersebut, inovasi medis seperti GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) mulai digunakan. Metode ini membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang di otak sehingga keinginan makan dapat ditekan.

Penggunaan terapi tersebut dinilai mampu membantu mengurangi rasa lapar sekaligus meningkatkan rasa kenyang lebih lama. Namun, penanganan food noise tetap perlu dibarengi pola hidup sehat dan pengaturan pola makan yang baik.

Pemahaman mengenai food noise dinilai penting agar masyarakat memahami obesitas tidak hanya dipengaruhi pola makan semata. Faktor biologis tubuh dan cara kerja otak juga memiliki peran besar dalam kondisi tersebut. (rif/fir)

Editor : M Firman Syah
#food noise #gizi #obesitas #kesehatan tubuh #pola makan