RADAR SURABAYA - Kelompok perupa ‘Yang Ada’ kembali menggelar pameran bertajuk Jaman Semono di Galeri Prabangkara, Surabaya. Pameran ini kali ketujuh bagi para alumni Seni Rupa Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya.
Ketua Pameran Choirul Subechi menjelaskan, tema Jaman Semono diangkat sebagai bentuk refleksi terhadap masa lalu yang masih memiliki relevansi dengan kehidupan saat ini. Menurutnya, istilah semono menjadi medium untuk menggali kembali nilai-nilai sosial, budaya, dan emosional yang pernah hidup di masyarakat.
Baca Juga: Inovasi Mobil Bertenaga Reaksi Kimia Karya Mahasiswa ITS Surabaya Jadi Pemenang ICRCC 2026
“Melalui tema ini, para seniman mencoba menghadirkan nostalgia, kritik, sekaligus perenungan terhadap perjalanan waktu melalui karya visual mereka,” ujarnya, Selasa (5/5).
Sebanyak 16 pelukis ambil bagian dalam pameran tersebut. Mereka menghadirkan karya dengan beragam pendekatan artistik. Mulai dari realisme, ekspresionisme, hingga kontemporer. Keberagaman gaya itu menghadirkan dialog visual yang kaya serta menunjukkan perkembangan eksplorasi artistik para alumnus dari waktu ke waktu.
Choirul menambahkan, pameran ini bukan sekadar ajang memamerkan karya, tetapi juga menjadi ruang apresiasi dan silaturahmi antarperupa serta masyarakat. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat semangat berkesenian di kalangan pelaku seni rupa Jawa Timur.
“Pameran ini kami siapkan sebagai ruang bertemu, bertukar gagasan, sekaligus mengapresiasi perjalanan berkarya para perupa,” katanya.
Pameran Jaman Semono juga menjadi bagian dari rangkaian Pekan Seni Rupa Jawa Timur 2026 dan turut memeriahkan Bulan Menggambar Nasional yang diperingati setiap Mei. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk menegaskan pentingnya praktik menggambar dan melukis sebagai fondasi utama dalam seni rupa.
Sementara itu, Ika Ismurdiawati, pengunjung pameran yang juga mantan dosen para perupa, mengaku bangga melihat perkembangan karya anak didiknya. Menurutnya, para seniman yang terlibat menunjukkan peningkatan kualitas yang signifikan berkat proses panjang dan konsistensi mereka dalam berkarya.
“Saya melihat perkembangan mereka luar biasa karena memang terus belajar. Dulu mereka berproses dari pagi sampai malam saat kuliah. Sekarang karya mereka berkembang sangat baik dan itu membanggakan kami sebagai dosen,” tuturnya.
Ia menambahkan, meski tidak semua alumnus memilih menjadi seniman murni dan sebagian berkarier sebagai guru seni rupa, dedikasi mereka dalam terus berkarya tetap layak mendapat apresiasi. (sam)
Editor : Lambertus Hurek