RADAR SURABAYA - Koreografer senior Surabaya, Sri Mulyani, kembali dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan pelatihan koreografi di Kaimana, Papua Barat. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.
Sri Mulyani, owner dan pembina anak disabilitas dari Sanggar Mulyo Joyo Enterprise, ini telah lama berkiprah dalam dunia seni tari, khususnya dalam pengembangan koreografi inklusif dan berbasis budaya lokal.
Baca Juga: Bidik Lonjakan Wisatawan dan Okupansi Hotel, Festival Rujak Uleg 2026 Masuk KEN
Sejak tahun 2021 hingga 2023, Sri mengaku aktif menjadi narasumber dalam berbagai workshop dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat di sejumlah kabupaten/kota.
Sementara itu, pada tahun 2024 hingga 2025, program pelatihan sempat terhenti karena fokus anggaran dan kegiatan yang diarahkan pada pelaksanaan pemilihan presiden.
Perjalanan Sri Mulyani sebagai narasumber di Tanah Papua bermula dari kepercayaan George Willem Yomaki, seorang koreografer dan pelaku budaya Papua Barat yang saat itu bertugas di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat. Ia merekomendasikan Sri Mulyani kepada panitia penyelenggara program workshop seni.
“Alhamdulillah, kepercayaan tersebut membuka kesempatan bagi saya untuk diundang sebagai narasumber dalam tiga kegiatan sekaligus di Manokwari dan Sorong. Antusiasme peserta sangat tinggi, dan materi yang saya sampaikan dapat diterima dengan baik serta memberikan dampak positif,” ungkap Sri Mulyani di Surabaya, Minggu (3/5).
Baca Juga: Luncurkan New JConnect, Bank Jatim Target 2 Juta Pengguna, Sasar Pekerja Migran Indonesia
Keberhasilan tersebut membuat para peserta berharap agar Sri Mulyani dapat kembali diundang pada kegiatan berikutnya. Panitia pun menyambut baik kolaborasi ini dan menilai kerja sama yang terjalin memberikan hasil yang memuaskan.
Menurut dia, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi seni mampu menjembatani perbedaan budaya dan menciptakan dampak yang berkelanjutan. Berbagai kegiatan pelatihan yang telah dijalankannya mencatat jejak pengabdian di sejumlah daerah seperti Manokwari, Sorong, Kaimana, Fakfak, Teluk Bintuni, hingga Teluk Wondama.
Dalam setiap pelatihan, Sri Mulyani mengusung konsep “Ruang yang Bernapas” melalui olah tubuh sebagai dasar proses koreografi. Menurut Sri, pendekatan ini bertujuan agar peserta tidak hanya mempelajari gerakan, tetapi juga mampu memahami makna, merasakan proses, serta memiliki keberanian untuk mencipta karya secara mandiri. (*)
Editor : Lambertus Hurek