RADAR SURABAYA – Meski setahun terakhir sangat sibuk menjalankan tugas sebagai Uskup Surabaya, Monsinyur Agustinus Tri Budi Utomo tetap menyempatkan diri menekuni hobi fotografi.
Dalam setiap kunjungan ke paroki-paroki, ke luar provinsi bahkan ke luar negeri, Uskup Didik, sapaan akrabnya, selalu membawa kamera kesayangan. “Fotografi itu hobi saya sejak lama selain melukis,” kata rohaniwan Katolik asal Ngawi itu.
Uskup Didik mengaku semakin serius menekuni hobi fotografinya ketika bertugas di Kalimantan. Saat itu dia harus keluar masuk hutan untuk menemui umatnya di stasi-stasi yang lokasinya sangat jauh.
Ia pun menggunakan kameranya untuk memotret suasana hutan, flora dan fauna, hingga keseharian masyarakat yang ditemuinya.
“Saya paling suka human interest karena menonjolkan sisi human apa adanya,” kata Uskup yang juga aktivis gerakan lintas agama itu. Baginya, foto human interest mampu merekam kejujuran, perjuangan, dan harapan masyarakat pedalaman yang jarang terekspos.
Kecintaan pada fotografi sejarah juga tetap jalan. Uskup Didik memang dikenal senang mengunjungi dan memotret bangunan bersejarah atau cagar budaya.
Baca Juga: Kebakaran Rumah Lantai Dua di Jalan Putat Gede Surabaya, Temukan Tumpukan Uang Ikut Terbakar
Pekan lalu, di sela visitasi ke Paroki Ngawi, ia menyempatkan diri mendatangi Benteng Van den Bosch. Seusai urusan pastoral bersama umat Katolik setempat, ia mengeksplorasi benteng peninggalan Belanda tersebut. “Sangat menarik,” ujarnya.
Naluri fotografernya juga muncul saat malam bulan purnama, 2 Mei 2026. Ketika itu langit Surabaya sedang cerah. Ia langsung menyiapkan kamera untuk mengabadikan fenomena alam tersebut.
“Bulan purnama kali ini dalam bentuk lingkaran paling bulat. Sangat indah,” kata Uskup Didik.
Hasil jepretan bulan purnama itu tak lupa ia bagikan di media sosial. Banyak umat dan warganet yang ikut mengapresiasi foto-fotonya.
Bagi Uskup Didik, fotografi bukan sekadar hobi. Lewat lensa kamera, ia belajar melihat keindahan ciptaan Tuhan dari sudut pandang yang berbeda, sekaligus mendekatkan diri dengan umat lewat karya visual. (*)
Editor : Lambertus Hurek