Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Merasa Benar Meski Salah, Ini Penjelasan Psikologi tentang Disonansi Kognitif

M Firman Syah • Selasa, 21 April 2026 | 12:59 WIB
Ilustrasi konflik batin saat keyakinan dan perilaku bertentangan dalam kehidupan sehari-hari manusia modern.
Ilustrasi konflik batin saat keyakinan dan perilaku bertentangan dalam kehidupan sehari-hari manusia modern.
 
RADAR SURABAYA – Fenomena seseorang tetap bertahan pada keputusan yang keliru atau membenarkan tindakan yang bertentangan dengan nilai yang diyakini merupakan hal yang umum dalam kajian psikologi. Kondisi ini dikenal sebagai Disonansi Kognitif, konsep yang diperkenalkan oleh psikolog sosial Leon Festinger.

Dalam bukunya A Theory of Cognitive Dissonance (1957), Festinger menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan alami untuk menjaga konsistensi antara keyakinan, sikap, dan perilaku. Ketika terjadi ketidaksesuaian, individu akan mengalami ketidaknyamanan psikologis yang mendorongnya mencari cara untuk meredakan konflik tersebut.

“Individu berusaha mencapai konsistensi internal. Ketika terjadi inkonsistensi, akan muncul dorongan untuk menguranginya,” tulis Festinger.

Baca Juga: Strategi Psikologis Hadapi Anak yang Mengeluh Saat Puasa

Dalam kehidupan sehari-hari, disonansi kognitif dapat muncul dalam berbagai situasi. Misalnya, seseorang yang memahami pentingnya hidup sehat, tetapi tetap menjalani kebiasaan tidak sehat. Alih-alih mengubah perilaku, individu tersebut cenderung mencari pembenaran agar tindakannya tetap terasa benar.

Fenomena ini diperkuat melalui eksperimen klasik yang dilakukan Festinger bersama James Carlsmith pada 1959. Dalam penelitian tersebut, partisipan diminta melakukan tugas membosankan, lalu meyakinkan orang lain bahwa tugas itu menyenangkan. Hasilnya, partisipan dengan bayaran kecil justru lebih cenderung mempercayai kebohongan tersebut sebagai bentuk pembenaran internal.

Baca Juga: Tak Sekadar Iseng, Ini Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Nonton Stories Sendiri

Temuan ini menunjukkan bahwa ketika alasan eksternal tidak cukup kuat, individu cenderung mengubah cara berpikirnya agar selaras dengan tindakan yang telah dilakukan.

Sejumlah peneliti lain turut mengembangkan konsep ini. Psikolog Elliot Aronson menilai disonansi akan terasa lebih kuat jika berkaitan dengan citra diri. Sementara itu, melalui buku Mistakes Were Made (But Not by Me), Aronson bersama Carol Tavris menjelaskan bagaimana manusia sering kali membenarkan kesalahan tanpa disadari.

Baca Juga: Olahraga Terbukti Efektif Redakan Depresi, Setara Terapi Psikologis

Dalam konteks modern, konsep ini semakin relevan di tengah arus informasi digital yang masif. Individu kerap dihadapkan pada berbagai sudut pandang yang bertentangan, namun tetap mempertahankan keyakinan tertentu melalui berbagai pembenaran.

Memahami mekanisme disonansi kognitif dinilai penting agar seseorang lebih reflektif dalam mengambil keputusan. Dengan menyadari adanya konflik dalam diri, individu diharapkan tidak hanya mencari pembenaran, tetapi juga berani mengevaluasi tindakan dan keyakinannya secara lebih objektif. (sry/fir)

Editor : M Firman Syah
#self awareness #disonasi kognitif #perilaku manusia #kesehatan mental #psikologi