Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sejarah Hari Kartini, Kisah Perjuangan Perempuan Terkekang hingga Jadi Inspirasi Abadi

Nurista Purnamasari • Selasa, 21 April 2026 | 07:01 WIB
Surat-surat dan pemikiran R. A. Kartini yang dikirim ke sahabatnya di Belanda menjadi bukti bahwa Kartini memiliki visi besar terhadap kesetaraan perempuan.  (ISTIMEWA)
Surat-surat dan pemikiran R. A. Kartini yang dikirim ke sahabatnya di Belanda menjadi bukti bahwa Kartini memiliki visi besar terhadap kesetaraan perempuan.  (ISTIMEWA)

RADAR SURABAYA - Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini, tokoh emansipasi perempuan yang memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. 

Hari ini bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan Kartini dalam bidang pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesetaraan sosial. 

Kartini menjadi simbol perempuan Indonesia yang berani melawan tradisi feodal dan membuka jalan bagi lahirnya gerakan perempuan di tanah air.

Baca Juga: Dari 450 ke di Bawah 100! Cara Baru Surabaya Tekan Kenakalan Remaja

Awal Mula Penetapan Hari Kartini

Penetapan Hari Kartini berawal dari penghargaan terhadap jasa besar R.A. Kartini yang hidup pada masa kolonial Belanda. 

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari keluarga bangsawan Jawa. 

Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, adalah seorang bupati Jepara, sementara ibunya, M.A. Ngasirah, berasal dari kalangan rakyat biasa. 

Baca Juga: Cara Para Seniman Muda Peringati Hari Kartini lewat “Terbitlah Terang”

Sebagai anak bangsawan, Kartini berkesempatan mengenyam pendidikan dasar di ELS (Europese Lagere School), sekolah khusus anak-anak Belanda dan priyayi.

Kartini, Roekmini, Kardinah, dan Soemantri bersama murid-muridnya, Jepara, sebelum 1904. (ARSIP NASIONAL)
Kartini, Roekmini, Kardinah, dan Soemantri bersama murid-muridnya, Jepara, sebelum 1904. (ARSIP NASIONAL)

Meski hidup dalam lingkungan yang membatasi perempuan, Kartini memiliki semangat belajar yang tinggi dan pandangan maju tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. 

Ia banyak menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, mengungkapkan kegelisahan terhadap nasib perempuan Jawa yang tidak memiliki kebebasan untuk belajar dan menentukan masa depan.

Baca Juga: Jaga Gizi dan Kesegaran, 160 Orang di Dapur Asrama Haji Surabaya Memasak Sejak Dini Hari Penuhi Kebutuhan Makan Jemaah

Kartini menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang, pada tahun 1903.

Ia wafat pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya. Meski hidup singkat, pemikiran Kartini tetap abadi melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan oleh J.H. Abendanon dalam karya berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Buku tersebut menjadi inspirasi besar bagi gerakan perempuan Indonesia dan memperlihatkan betapa Kartini memiliki visi jauh ke depan.

Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan tanggal kelahiran Kartini, 21 April, sebagai Hari Kartini melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964. 

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya, Selasa 21 April 2026: Siang Panas, Ada Peluang Hujan Ringan Disertai Petir 

Penetapan ini bertujuan untuk mengenang jasa Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan membuka akses pendidikan bagi mereka.

Sejarah Perjuangan Kartini

Kartini dikenal sebagai sosok yang berani menentang tradisi feodal yang mengekang perempuan. 

Ia menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, mengungkapkan kegelisahan terhadap nasib perempuan Jawa yang tidak memiliki kebebasan untuk belajar dan menentukan masa depan. 

Baca Juga: TKA SD Jatim Digelar 20–30 April, Partisipasi Siswa Tembus 99,5 Persen

Dalam surat-suratnya, Kartini menekankan bahwa perempuan harus memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan dan berperan aktif dalam masyarakat.

Pemikiran Kartini menjadi dasar bagi gerakan emansipasi perempuan di Indonesia. Ia menginspirasi banyak tokoh perempuan setelahnya untuk memperjuangkan hak-hak sosial, politik, dan ekonomi. 

Semangatnya juga mendorong berdirinya sekolah-sekolah perempuan di berbagai daerah, yang menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan nasional. 

Baca Juga: Menyeberang Jalan, Pejalan Kaki Meninggal Dunia Tertabrak Motor di Jalan Undaan Kulon Surabaya

Kartini tidak hanya memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, tetapi juga menekankan pentingnya kebebasan berpikir dan kesetaraan dalam kehidupan sosial.

Inspirasi Kartini di Masa Kini

Lebih dari satu abad setelah wafatnya, semangat Kartini tetap hidup dan relevan. Hari Kartini kini diperingati dengan berbagai kegiatan yang menonjolkan peran perempuan dalam pembangunan bangsa, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, hingga politik. 

Nilai-nilai perjuangan Kartini mengajarkan bahwa kesetaraan gender bukan sekadar slogan, melainkan perjuangan nyata untuk menciptakan masyarakat yang adil dan berdaya.

Kartini menjadi simbol perempuan Indonesia yang cerdas, berani, dan berintegritas. Semangatnya menginspirasi generasi muda untuk terus berjuang melawan ketidakadilan dan memperjuangkan hak-hak perempuan di berbagai bidang kehidupan. 

Baca Juga: Harga Minyak Goreng di Surabaya Meroket, Tembus Rp 23 Ribu per Liter

Peringatan Hari Kartini juga menjadi sarana refleksi bahwa perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan harus terus dilanjutkan oleh setiap generasi.

Hari Kartini bukan hanya peringatan sejarah, tetapi juga refleksi atas perjuangan panjang menuju kesetaraan. 

R.A. Kartini telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang sama dalam kehidupan sosial. 

Baca Juga: Ratusan Atlet Siap Bertarung di Muaythai Jatim Seri II Surabaya, Piala Wali Kota di CITO Jadi Sorotan

Semangatnya yang abadi menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan harus terus dilanjutkan oleh setiap generasi, sehingga cita-cita Kartini untuk melihat perempuan Indonesia maju dan berdaya dapat terwujud sepenuhnya. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#hari kartini #habis gelap terbitlah terang #tokoh perempuan surabaya #emansipasi perempuan #kartini