RADAR SURABAYA - Tren kedai kopi di Surabaya terus berkembang. Tidak hanya menyajikan minuman, sejumlah pelaku usaha mulai menghadirkan konsep unik yang sarat makna. Salah satunya Kedai Sasana Bhagavadgita yang menggabungkan kopi dengan kesenian tradisional Jawa.
Berlokasi di kawasan permukiman padat, Dukuh Pakis, Surabaya, kedai ini tampil berbeda. Di dalamnya, pengunjung dapat menjumpai berbagai elemen budaya Jawa, seperti gamelan, wayang kulit, hingga keris yang tertata rapi. Suasana tersebut sengaja dihadirkan sebagai bentuk edukasi sekaligus pelestarian budaya.
Baca Juga: Mahasiswa Surabaya Makin Banyak Beban, Belajar Meditasi Preksha ala India untuk Redakan Stres
Pemilik kedai, Arya Sasikirana, mengungkapkan bahwa konsep ini berangkat dari kecintaannya terhadap budaya Jawa. Ia juga memanfaatkan rumah milik sang eyang yang menyimpan berbagai perlengkapan seni tradisional.
“Saya mengangkat konsep Jawa. Ada gamelan, wayang, keris, dan lainnya. Awalnya karena rumah eyang hanya ditempati sendiri, dan di sini sudah ada alat-alat seni. Sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ujarnya, Selasa (14/4).
Arya mengaku tidak memiliki latar belakang di bidang kuliner. Ide membuka kedai kopi justru muncul dari kebiasaannya yang gemar berpindah-pindah kafe. Bersama seorang rekannya, ia kemudian memberanikan diri merintis usaha tersebut.
“Tidak punya basic kuliner, hanya suka nongkrong. Akhirnya mencoba buka kedai ini,” katanya.
Baca Juga: Jejak Kantor Pelayaran JCJL Penghubung Jalur Jawa, Tiongkok, dan Jepang di Kembang Jepun Surabaya
Lebih dari sekadar tempat ngopi, kedai ini juga menjadi ruang berkumpul bagi para seniman muda. Arya yang saat ini masih berstatus mahasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, aktif belajar dalang dan karawitan. Ia pun menyediakan panggung kecil untuk pertunjukan seni.
“Tujuannya juga sebagai wadah teman-teman seniman muda untuk tampil dan bertukar ide. Minimal setiap bulan ada event di sini,” jelasnya.
Selain itu, edukasi menjadi misi utama. Arya melihat masih banyak generasi muda di Surabaya yang belum memahami budaya Jawa secara mendalam. Melalui konsep ini, ia ingin menghadirkan pengalaman belajar yang santai dan dekat dengan keseharian.
Kedai yang berdiri sejak September 2025 ini menyasar semua kalangan, mulai dari anak muda hingga keluarga. Nama Sasana Bhagavadgita sendiri memiliki makna sebagai tempat berkumpul untuk mendapatkan pencerahan.
Meski berada di tengah permukiman, keberadaan kedai ini tidak menimbulkan keluhan warga. Lingkungan sekitar sudah terbiasa dengan aktivitas seni, mengingat lokasi tersebut sejak dulu dikenal sebagai tempat tinggal seorang dalang. (sam)
Editor : Lambertus Hurek