Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Asal-usul Guling, dari Teman Tidur hingga Jadi Kebiasaan Masyarakat Indonesia

M Firman Syah • Selasa, 14 April 2026 | 07:21 WIB
Asal-usul Guling, dari Teman Tidur hingga Jadi Kebiasaan Masyarakat Indonesia.
Asal-usul Guling, dari Teman Tidur hingga Jadi Kebiasaan Masyarakat Indonesia.

JAKARTA – Guling telah lama menjadi bagian dari kebiasaan tidur masyarakat Indonesia. Bantal panjang ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga memiliki nilai historis dan budaya yang berkembang dari masa ke masa.

Dalam praktik sehari-hari, guling kerap dipeluk saat tidur, terutama oleh mereka yang terbiasa tidur menyamping. Dari sisi kesehatan, sejumlah ahli menyebut penggunaan guling dapat membantu menjaga posisi tubuh tetap stabil serta mengurangi tekanan pada tulang belakang.

Baca Juga: Ahli Gizi Unair Surabaya Ingatkan Perubahan Hormon saat Ramadan Perlu Diimbangi Tidur yang Teratur

Sejarawan menyebut, kebiasaan menggunakan guling diduga sudah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Pada masa itu, prajurit atau perantau yang jauh dari keluarga membuat bantal sederhana dari kapas atau daun kering sebagai pengganti pelukan.

Dalam tradisi lisan masyarakat Jawa, dikenal pula istilah “pengantin guling”, yang merujuk pada seseorang yang hidup sendiri dalam waktu lama hingga menjadikan guling sebagai teman tidur.

Memasuki era kolonial VOC, guling semakin dikenal luas. Bangsa Belanda menyebutnya “Dutch Wife”, istilah yang menggambarkan fungsi bantal panjang tersebut sebagai teman tidur bagi para pekerja yang hidup jauh dari pasangan di tanah asal.

Baca Juga: Kenali Gejala Stres yang Sering Tak Disadari, dari Gangguan Tidur hingga Masalah Pencernaan

Sejumlah catatan sejarah menyebut, para serdadu dan pejabat Belanda di Hindia-Belanda menghadapi keterbatasan dalam kehidupan sosial, sehingga memunculkan berbagai adaptasi, termasuk penggunaan guling sebagai bentuk kenyamanan sederhana saat beristirahat.

Dari sudut pandang budaya, antropolog menilai guling merupakan bentuk adaptasi lokal terhadap kebutuhan emosional dan fisik. Kebiasaan ini kemudian bertransformasi menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia yang bertahan hingga kini.

Baca Juga: 7 Penyebab Tubuh Tetap Lelah Meski Tidur Cukup, Nomor 5 Sering Terjadi

Sementara itu, pakar kesehatan tidur menyebut bahwa penggunaan guling juga memiliki manfaat ergonomis, terutama dalam menjaga posisi tubuh saat tidur dan membantu kualitas istirahat.

Berbeda dengan beberapa negara lain yang mulai meninggalkan bantal serupa, masyarakat Indonesia tetap mempertahankan penggunaan guling. Hingga kini, guling tidak hanya menjadi perlengkapan tidur, tetapi juga simbol kebiasaan yang mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari. (naa/fir)

Editor : M Firman Syah
#guling #Gaya Hidup #budaya indonesia #Kebiasaan Tidur #majapahit