RADAR SURABAYA – Anak yang tiba-tiba menahan napas hingga wajah tampak pucat atau kebiruan kerap membuat orang tua panik. Kondisi ini dikenal sebagai breath holding spell dan cukup umum terjadi pada anak usia dini. Meski terlihat mengkhawatirkan, kondisi ini umumnya tidak berbahaya.
Breath holding spell terjadi ketika anak menahan napas secara tidak sadar. Kondisi ini biasanya muncul setelah anak menangis atau mengalami emosi yang intens. Dalam beberapa kasus, anak bisa tampak kaku, lemas, bahkan kehilangan kesadaran sesaat.
Baca Juga: Anak Down Syndrome Surabaya Tampil Percaya Diri di Peringatan HDSD Jatim
Durasi kondisi ini umumnya singkat, kurang dari satu menit. Setelah itu, anak akan kembali bernapas normal dengan sendirinya. Orang tua diimbau untuk tidak langsung panik saat menghadapi situasi ini.
Dokter spesialis anak dr. Herbowo Agung menjelaskan bahwa kondisi ini sering terjadi pada usia tertentu. “Usia 6 bulan hingga 6 tahun merupakan rentang umum terjadinya breath holding spell,” ujarnya. Kondisi ini termasuk respons tubuh yang masih berkembang.
Baca Juga: Dokter Anak Ingatkan Bahaya Cium dan Peluk Bayi saat Lebaran
Penting dipahami, anak tidak menahan napas secara sengaja. Hal ini merupakan reaksi refleks terhadap emosi atau rangsangan tertentu. Pemicunya bisa berupa tantrum, marah, takut, nyeri, hingga rasa terkejut.
Selain faktor emosional, kondisi ini juga bisa berkaitan dengan masalah kesehatan lain. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan dengan kekurangan zat besi. Gangguan pada sistem saraf otonom juga dapat menjadi salah satu faktor.
Saat anak mengalami breath holding spell, orang tua disarankan tetap tenang. Anak sebaiknya dibaringkan dalam posisi miring untuk mencegah cedera. Jauhkan benda berbahaya di sekitar anak.
Selama episode berlangsung, orang tua tetap perlu mendampingi anak. Setelah kondisi membaik, berikan ketenangan agar anak merasa aman. Pemahaman yang tepat dapat membantu orang tua menghadapi kondisi ini tanpa panik. (shf/fir)
Editor : M Firman Syah