RADAR SURABAYA – Anggapan bahwa nyeri haid akan berkurang setelah menikah masih banyak dipercaya. Namun, secara medis, klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Nyeri haid atau dismenore merupakan kondisi umum yang dialami perempuan akibat kontraksi rahim saat meluruhkan lapisan dindingnya. Tingkat nyeri pun bervariasi, mulai dari ringan hingga cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Nyeri Haid Berlarut, Waspada Endometriosis
Sebagian orang mengaitkan berkurangnya nyeri haid dengan aktivitas seksual setelah menikah. Hal ini dikaitkan dengan kontraksi rahim saat orgasme yang dianggap dapat membantu proses peluruhan darah menstruasi. Meski demikian, anggapan tersebut belum didukung bukti ilmiah yang memadai.
Secara medis, terdapat faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap perubahan nyeri haid. Salah satunya adalah pengalaman persalinan. Sejumlah perempuan yang telah melahirkan dilaporkan mengalami penurunan intensitas nyeri saat menstruasi.
Kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan pada reseptor prostaglandin di rahim. Hormon ini berperan dalam mengatur kontraksi rahim, baik saat persalinan maupun menstruasi, sehingga memengaruhi tingkat nyeri yang dirasakan.
Selain itu, nyeri haid juga dapat dipicu oleh kondisi kesehatan tertentu, seperti endometriosis, fibroid, atau penyakit radang panggul. Karena itu, nyeri yang berlebihan sebaiknya tidak diabaikan dan perlu mendapat penanganan medis.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pegal, Nyeri dari Pergelangan ke Bahu Bisa Jadi Tanda Masalah Serius
Penanganan nyeri haid dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari konsumsi obat pereda nyeri hingga metode non-medis seperti kompres hangat, menjaga pola makan sehat, serta melakukan teknik relaksasi.
Perubahan hormon selama menstruasi juga dapat memicu gejala lain, seperti perubahan suasana hati, mudah tersinggung, hingga rasa tidak nyaman secara umum. (fid/fir)