Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tren Kasus Bunuh Diri Anak Meningkat, Indonesia Alami Krisis Kedekatan Emosional?

Nurista Purnamasari • Minggu, 15 Maret 2026 | 20:57 WIB
Ilustrasi. (Pinterest)
Ilustrasi. (Pinterest)

 RADAR SURABAYA - Fenomena bunuh diri anak kembali menjadi perhatian serius di Indonesia. Sepanjang tahun 2026, tercatat sudah ada empat anak meninggal dunia akibat bunuh diri di sejumlah daerah, mulai dari NTT, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Kalimantan Timur. 

Kondisi ini menambah keprihatinan publik karena data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan kasus bunuh diri anak di Indonesia masih tinggi, bahkan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.

KPAI mencatat, kasus bunuh diri anak selalu berada di atas 20 per tahun. Pada 2023 tercatat 46 kasus, 2024 sebanyak 43 kasus, dan 2025 sebanyak 26 kasus. 

Baca Juga: Radar Surabaya Kembali Gelar Mudik Gratis 2026, Sediakan Kuota untuk Tiga Rute Favorit

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa tren ini harus diwaspadai. “Dalam tahun 2026 ini sudah ada empat orang anak yang meninggal. Kasus terjadi di NTT, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur,” ujarnya, Minggu (15/3).

Penyebab Bunuh Diri Anak

Guru Besar IPB University sekaligus pakar pengasuhan anak, Prof Dwi Hastuti, menjelaskan bahwa bunuh diri anak umumnya dipicu oleh rasa putus asa dan hilang harapan. 

“Ketika anak putus asa, mereka lebih mudah mengalami depresi, frustrasi, dan stres. Sayangnya, orang tua sering kurang peka terhadap tanda-tanda stres yang dialami anak,” jelasnya dikutip dari Detikcom.

Ia menambahkan, faktor internal keluarga, pertemanan di sekolah, lingkungan sosial, hingga konten negatif di media sosial dapat memperparah kondisi psikologis anak. 

Baca Juga: Kasus Penyiraman Air Keras, Kapolri Terima Perintah Presiden Usut Tuntas dan Buka Posko Pengaduan

“Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa pengawasan orang tua dan komunikasi yang baik, maka dapat memicu kecemasan, kegelisahan, bahkan kebencian terhadap diri sendiri,” ungkapnya.

Pentingnya Peran Orang Tua dan Sekolah

Prof Dwi menekankan pentingnya kedekatan emosional antara anak dan orang tua.

“Pada usia prasekolah, kedekatan anak biasanya lebih kuat dengan ibu. Saat memasuki usia sekolah hingga remaja, kedekatan dengan ayah juga menjadi penting. Namun kedekatan itu hanya bisa terbangun jika ada interaksi cukup sejak masa kanak-kanak,” ujarnya.

Selain orang tua, peran guru dan teman di sekolah juga krusial. Lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat yang aman untuk saling mendukung. 

“Budaya saling peduli dan gotong royong di sekolah bisa menjadi langkah pencegahan dasar,” tambahnya.

Upaya Pencegahan

Menurut Prof Dwi, langkah pencegahan bisa dimulai dari hal paling dasar di sekolah, yaitu budaya saling peduli dan gotong royong. 

Baca Juga: Diplomat Turki Serang Netanyahu: Israel Disebut Selalu Cari Musuh Baru di Timur Tengah

Karena, lingkungan pendidikan sudah seharusnya menjadi tempat belajar untuk saling mendukung satu sama lain.

Selain itu, keterlibatan masyarakat juga tidak kalah penting. Itu karena, lingkungan juga memengaruhi tumbuh kembang anak-anak.

Peningkatan pendidikan keluarga dan program parenting juga sangat penting  untuk membantu orang tua menerapkan pola asuh yang baik. 

Baca Juga: 21 Pelajar Gresik Diamankan saat Konvoi Sahur on the Road, Tiga Terbukti Konsumsi Miras

Selanjutnya, orang tua juga perlu mengawasi aktivitas anak di media sosial dengan membatasi penggunaan ponsel.

“Membesarkan anak memerlukan dukungan lingkungan. Anak perlu diajak memahami realitas sosial agar tumbuh empati dan karakter yang kuat,” pungkasnya. (dtk/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#kedekatan emosional #kpai #Bunuh Diri #orang tua #depresi #Depresi Anak