Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tips Kelola THR agar Tak Boncos setelah Lebaran

Nofilawati Anisa • Sabtu, 7 Maret 2026 | 21:20 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI

RADAR SURABAYA BISNIS – Idulfitri kurang dua pekan lagi. Itu artinya sudah banyak karyawan maupun pegawai yang menerima Tunjangan Hari Raya (THR).

Namun, di balik euforia kebhagiaan menerima THR, ada satu tantangan nyata yang rutin kita hadapi yaitu inflasi gaya hidup musiman.

Bukan rahasia lagi jika pengeluaran di bulan puasa seringkali justru membengkak dibandingkan bulan biasa.

Jika tidak dikelola dengan baik, THR bisa jadi hanya sekadar "numpang lewat" meninggalkan kita dengan saldo menipis pasca Lebaran.

Lalu bagaimana cara mengatur THR agar tidak boros saat Ramadan dan Lebaran?

Berikut empat tips cerdas mengatur arus kas selama setelah menerima THR:

1. Pisahkan Gaji Bulanan dan THR
Langkah pertama dalam pengelolaan keuangan bulan puasa adalah memisahkan antara gaji dan THR.

Jangan mencampuradukkan kedua sumber dana ini. Gunakan gaji rutin bulanan murni untuk biaya hidup operasional, seperti membayar tagihan listrik, air, cicilan rumah atau kendaraan, serta belanja dapur sehari-hari.

Sementara itu, kunci uang THR secara khusus untuk mendanai pengeluaran ekstra yang muncul karena kegiatan Ramadan dan perayaan Idulfitri.

Memisahkan pos dana membantu Anda mengontrol arus kas dan mencegah pengeluaran impulsif.

2. Rumus Alokasi Ideal THR
Agar THR tidak menguap tanpa jejak, segera alokasikan dananya sejak hari pertama cair. Berikut contoh alokasi yang diterapkan:

10 persen hingga 15 persen untuk kewajiban agama, seperti Zakat Fitrah, Zakat Mal, Fidyah, maupun sedekah.

Pos ini adalah prioritas utama untuk menyempurnakan ibadah kita.

10 persen hingga 20 persen dari THR untuk melunasi atau mencicil utang jangka pendek, khususnya tagihan kartu kredit atau paylater yang mungkin membengkak.

40 persen hingga 50 persen alokasi untuk kebutuhan Lebaran.

Dana ini mencakup biaya transportasi mudik, hampers, angpao atau salam tempel, kue Lebaran, hingga pakaian baru jika memang diperlukan.

10 persen hingga 20 persen sisanya untuk tabungan atau investasi, seperti menambah dana darurat, membeli Surat Berharga Negara (SBN), atau reksa dana guna mengamankan kondisi keuangan Anda pasca-Lebaran.

Membawakan buah tangan buatan sendiri juga bisa menjadi alternatif yang lebih hemat dan terasa lebih personal.

Tahan godaan diskon online saat sahur. Kebiasaan mengecek aplikasi e-commerce sambil menunggu waktu subuh sangat mudah memicu pembelian impulsif pada barang yang sebenarnya tidak mendesak.

4. Strategi Bertahan Hidup Pasca-Lebaran
Banyak yang lupa bahwa setelah gegap gempita libur Lebaran usai realita kehidupan tetap berlanjut.

Jarak antara kembalinya kita beraktivitas pasca lebaran dengan tanggal gajian berikutnya seringkali terasa sangat panjang. Pastikan Anda:
1.Menyisakan saldo likuid yang cukup di rekening operasional untuk biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari.

2.Tidak mengandalkan utang konsumtif.

3. Tetap disiplin pada anggaran bulanan.

4. Jangan sampai euforia Lebaran berujung pada beban finansial baru.

5.Esensi dari ibadah puasa pada dasarnya adalah melatih pengendalian diri, dan nilai ini sangat relevan untuk diaplikasikan pada kebiasaan konsumtif kita.

Keberkahan bulan Ramadan tidak diukur dari seberapa mewah perayaan kita, melainkan dari seberapa bijak kita mengelola rezeki yang dititipkan-Nya. (keu/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#karyawan #idulfitri #tips mengelola thr #lebaran #tunjangan hari raya #ramadan #pegawai