Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tradisi Kerik Gigi Perempuan Mentawai, Simbol Kecantikan dan Kedewasaan

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 7 Maret 2026 | 04:33 WIB

Budaya : Seorang perempuan dari Suku Mentawai memperlihatkan gigi yang diruncingkan serta tato tradisional di tubuhnya.
Budaya : Seorang perempuan dari Suku Mentawai memperlihatkan gigi yang diruncingkan serta tato tradisional di tubuhnya.

RADAR SURABAYA – Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi. Keragaman suku di berbagai daerah membuat setiap wilayah memiliki adat istiadat unik yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu tradisi yang masih dijaga hingga kini dapat ditemukan pada masyarakat Suku Mentawai di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, khususnya di Pulau Siberut. Suku ini memiliki tradisi khas yang berkaitan dengan standar kecantikan perempuan.

Tradisi tersebut adalah meruncingkan atau mengerik gigi serta menghias tubuh dengan tato. Bagi masyarakat Mentawai, kecantikan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari wajah, tetapi juga dari simbol-simbol budaya yang melekat pada tubuhnya.

Baca Juga: Sakral dan Sarat Filosofi, Tradisi Karia Suku Muna dari Pingitan Gelap hingga Tebas Pisang

Berbeda dengan konsep kecantikan modern yang identik dengan perawatan wajah atau bentuk tubuh tertentu, perempuan Mentawai memiliki standar kecantikan tersendiri. Mereka percaya bahwa kecantikan sejati tercermin dari keseimbangan antara tubuh dan kebahagiaan jiwa.

Dalam tradisi Mentawai, seorang perempuan dianggap cantik apabila memenuhi tiga kriteria utama. Pertama, memiliki telinga panjang akibat penggunaan anting tradisional. Kedua, tubuh yang dihiasi tato khas Mentawai. Ketiga, gigi yang diruncingkan melalui ritual kerik gigi.

Masyarakat setempat meyakini bahwa gigi runcing dapat menambah aura kecantikan sekaligus melambangkan kedewasaan seorang perempuan. Karena itu, banyak perempuan Mentawai menantikan prosesi ini sebagai bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.

Proses meruncingkan gigi dilakukan secara manual menggunakan alat besi yang diasah hingga tajam. Ritual ini tergolong ekstrem karena dilakukan tanpa anestesi atau obat bius.

Baca Juga: Tradisi Khas Ramadan di Palestina, Kebersamaan Tetap Terjaga

Selama proses berlangsung, perempuan yang menjalani ritual harus menahan rasa sakit yang cukup kuat. Selain itu, prosesnya juga memakan waktu cukup lama sehingga membutuhkan ketahanan mental dan fisik.

Meski terasa menyakitkan, tradisi ini tetap dijaga oleh masyarakat Mentawai sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Bahkan, tidak sedikit perempuan yang menjalani ritual tersebut menjelang pernikahan sebagai simbol kedewasaan dan kesiapan memasuki fase kehidupan baru.

Di balik ritual tersebut juga tersimpan makna filosofis yang mendalam. Masyarakat Mentawai memaknai tradisi kerik gigi sebagai simbol pengendalian diri terhadap enam sifat buruk manusia yang dikenal sebagai Sad Ripu.

Enam sifat tersebut meliputi hawa nafsu (kama), keserakahan (lobha), kemarahan (krodha), kelalaian atau mabuk (mada), iri hati (matsarya), serta kebingungan atau ketidaktahuan (moha).

Baca Juga: Menjalani Ramadan di Mesir, Tradisi Semarak dari Fanus hingga Meja Berbagi

Dengan menjalani tradisi ini, perempuan Mentawai tidak hanya dianggap semakin cantik secara fisik, tetapi juga diharapkan mampu mengendalikan diri dan menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.

Hingga kini, tradisi kerik gigi tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Mentawai yang menunjukkan bagaimana konsep kecantikan, filosofi hidup, dan identitas budaya berpadu dalam satu ritual adat yang sarat makna. (ida/fir)

 

Editor : M Firman Syah
#budaya indonesia #kerik gigi #simbol kecantikan #adat istiadat #mentawai