Radar Surabaya — Bulan Ramadan menjadi momen pembelajaran spiritual sekaligus emosional bagi anak. Namun, bagi anak yang baru belajar berpuasa, rasa lapar dan haus kerap memicu keluhan, tangisan, hingga perubahan suasana hati.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, kondisi tersebut merupakan respons yang wajar. Anak masih berada dalam tahap belajar mengelola dorongan biologis serta emosinya. Karena itu, pendekatan orang tua menjadi kunci agar pengalaman berpuasa tetap bermakna dan tidak menimbulkan tekanan berlebihan.
Baca Juga: Sajian Kurma untuk Buka Puasa, Manis Alami dan Mengenyangkan
Berikut tiga strategi yang dapat diterapkan:
Mengalihkan perhatian untuk mengurangi fokus pada ketidaknyamanan
Dalam psikologi kognitif, perhatian memiliki peran besar dalam menentukan intensitas rasa tidak nyaman. Semakin anak fokus pada lapar atau haus, semakin kuat sensasi tersebut dirasakan.
Orang tua dapat mengajak anak melakukan aktivitas ringan seperti menggambar, membaca cerita Islami, bermain permainan edukatif, atau membantu menyiapkan hidangan berbuka. Kegiatan ini tidak hanya mengalihkan fokus, tetapi juga menumbuhkan rasa keterlibatan dalam proses puasa. Pendekatan distraksi ini efektif membantu meredakan stres jangka pendek tanpa membuat anak merasa dipaksa.
Memberikan ruang istirahat untuk menstabilkan emosi
Penurunan kadar gula darah dapat memengaruhi suasana hati anak. Mereka bisa menjadi lebih sensitif, mudah marah, atau rewel. Dalam situasi ini, keluhan bukan sekadar sikap manja, melainkan respons biologis yang alami.
Baca Juga: Ngabuburit dengan Belajar Tari Sufi Jadi Sarana Spiritual Anak-Anak di Mojo Surabaya
Istirahat atau tidur siang singkat dapat membantu tubuh menghemat energi dan menstabilkan emosi. Dari sudut pandang psikologi fisiologis, istirahat berfungsi sebagai mekanisme pemulihan yang membantu sistem saraf kembali seimbang. Memberikan waktu istirahat juga mengajarkan anak mengenali sinyal tubuhnya sejak dini.
Melatih regulasi emosi dan memberikan validasi perasaan
Salah satu tujuan puasa adalah melatih kesabaran dan pengendalian diri. Namun, kemampuan regulasi emosi anak belum berkembang sempurna. Orang tua berperan sebagai pendamping yang membantu anak menenangkan diri.
Alih-alih merespons dengan teguran keras, orang tua dapat memberikan validasi seperti, “Mama tahu kamu lapar, itu memang tidak nyaman.” Sikap ini membuat anak merasa dipahami. Setelah itu, berikan penguatan positif atas usaha yang telah dilakukan. Pendekatan emotional coaching membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosinya secara sehat.
Baca Juga: Keutamaan Puasa Ramadan Hari Ke-14, Pahala Setara Ibadah Bersama Para Nabi Selama 200 Tahun
Orang tua juga perlu bersikap fleksibel. Dalam ajaran Islam, anak yang belum balig belum memiliki kewajiban penuh untuk berpuasa. Pengalaman yang positif jauh lebih penting dibandingkan target durasi semata.
Pada akhirnya, menghadapi anak yang mengeluh saat puasa bukan tentang memaksa ketahanan fisik, melainkan membangun ketahanan emosional secara bertahap. Dengan pendekatan empatik dan suportif, Ramadan dapat menjadi sarana pembentukan karakter yang menyenangkan dan bermakna. (sry/fir)
Editor : M Firman Syah