Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tak Sekadar Iseng, Ini Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Nonton Stories Sendiri

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 28 Februari 2026 | 10:19 WIB

 Ilustrasi: Kebiasaan menonton ulang Instagram Stories sendiri.
Ilustrasi: Kebiasaan menonton ulang Instagram Stories sendiri.

RADAR SURABAYA – Fitur Stories di Instagram menjadi salah satu sarana favorit untuk membagikan aktivitas sehari-hari. Namun, tak sedikit pengguna yang tanpa sadar kerap menonton ulang Stories miliknya sendiri berulang kali sebelum konten tersebut hilang dalam 24 jam.

Jika Anda pernah melakukannya, Anda tidak sendirian. Sejumlah kreator konten mengakui memiliki kebiasaan serupa. Dalam kajian psikologi, fenomena ini dikenal sebagai self-stalking, yakni kebiasaan “mengamati” diri sendiri melalui media sosial.

Baca Juga: Terobosan Baru! Depresi Bisa Dideteksi Lewat Media Sosial Berkat AI Karya Anak Bangsa

Para pakar menyebut ada beberapa alasan psikologis di balik perilaku tersebut.

Melihat Diri dari Sudut Pandang Orang Lain

Psikoterapis Eloise Skinner menjelaskan, salah satu alasan utama seseorang menonton ulang Stories adalah keinginan memahami bagaimana orang lain melihat dirinya.

Karena tidak dapat mengetahui secara langsung persepsi orang lain, seseorang mencoba membayangkannya melalui konten yang diunggah. Keinginan untuk memahami penilaian sosial ini, menurut Skinner, merupakan naluri manusia yang telah ada sejak lama.

Menonton ulang Stories pun diibaratkan seperti bercermin, hanya saja cerminnya berbentuk media sosial.

Mencari Validasi Sosial

Psikolog Zoe Mallet menambahkan, kebiasaan tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk diterima dalam kelompok sosial.

Baca Juga: Literasi Digital Jadi Kunci Hadapi Ancaman di Media Sosial

Secara evolusi, manusia terdorong untuk memperoleh pengakuan dan status sosial. Kini, media sosial menjadi ruang baru untuk membangun citra diri yang ingin ditampilkan ke publik. Jika dahulu orang memperhatikan penampilan atau cara berbicara saat bertemu langsung, kini perhatian beralih pada konten digital yang dibagikan.

Perfeksionisme hingga Rasa Insecure

Self-stalking juga dapat dipicu oleh sikap perfeksionis. Sebagian orang ingin memastikan kontennya tampak rapi, menarik, dan profesional, terlebih jika akun tersebut berfungsi sebagai portofolio.

Di sisi lain, kebiasaan ini juga bisa muncul akibat rasa kurang percaya diri. Pengguna cenderung membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, lalu menilai apakah konten mereka sudah cukup baik.

Baca Juga: Ardhito Pramono dan Davina Karamoy Mulai Go Public, Potret Kebersamaan Viral di Media Sosial

Meski demikian, Skinner menilai kebiasaan menonton ulang konten sendiri masih tergolong wajar selama tidak memicu tekanan berlebih atau membuat seseorang merasa rendah diri. Ia menyamakan perilaku ini dengan membuka kembali album foto lama atau jurnal pribadi.

Media sosial, pada akhirnya, menjadi arsip digital perjalanan hidup seseorang. Namun, jika kebiasaan tersebut justru memicu kritik berlebihan terhadap diri sendiri, para pakar menyarankan untuk mengontrol penggunaan media sosial dan lebih memprioritaskan kesehatan mental. (rif/fir)

Editor : M Firman Syah
#media sosial #instagram #self stalking #kesehatan mental #psikologi