Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Hati-Hati Pakai Krim Etiket Biru Berstreroid Tanpa Pengawasan, Wanita Ini Bagikan Kisahnya

Nurista Purnamasari • Rabu, 25 Februari 2026 | 19:58 WIB

Kondisi wajah Desty yang “babak belur” akibat penggunaan krim etiket biru yang mengandung steroid.
Kondisi wajah Desty yang “babak belur” akibat penggunaan krim etiket biru yang mengandung steroid.

RADAR SURABAYA - Demi tampil glowing dan bebas jerawat, Desty, 34, wanita asal Jakarta Selatan, pernah terjebak dalam penggunaan krim wajah beretiket biru yang ternyata mengandung steroid.

Berawal dari jerawat masa kuliah, ia memutuskan berkonsultasi ke sebuah klinik di Malang pada 2011.
Namun, keputusan itu justru menjadi awal masalah besar yang menghantui wajahnya selama satu dekade.

Awal Penggunaan Krim

Desty mengaku saat itu dokter meresepkan antibiotik, namun ia juga membeli krim murah di apotek klinik yang sama.

“Krimnya murah, nggak sampai Rp 50 ribu sebotol. Dipakai terus-terusan, ternyata mengandung steroid,” ujarnya.

Meski sudah diperingatkan apoteker, Desty tetap melanjutkan pemakaian karena alasan pekerjaan. Wajahnya tampak mulus saat menggunakan krim, tetapi rusak parah ketika berhenti.

Terjebak 10 Tahun

Desty akhirnya memakai krim tersebut hingga 10 tahun lamanya. “Kalau diberhentiin muka saya hancur, dipakai bagus tapi bahaya. Karena kerja ketemu orang, saya lanjutkan sampai 2023,” katanya.

Namun, kondisi wajahnya semakin memburuk. Ia mengalami kerusakan skin barrier, kemerahan, dan jerawat parah.

Proses Penyembuhan

Tahun 2023 menjadi titik balik. Desty berhenti total menggunakan krim dan mulai berobat ke dokter.
Ia menjalani konsultasi rutin setiap tiga bulan, menggunakan obat resep baru, serta diminta menurunkan berat badan karena obesitas memicu peradangan.“Dokter tidak menyarankan tapering off. Jadi langsung berhenti, lalu diberi obat minum dan krim baru,” jelasnya.

Kini, di 2026, kondisi wajah Desty mulai membaik meski masih sensitif terhadap debu, polusi, dan panas.

Menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDI), penggunaan krim mengandung steroid tanpa pengawasan medis dapat menyebabkan penipisan kulit (skin atrophy), jerawat steroid, kemerahan dan iritasi, ketergantungan kulit terhadap krim, dan risiko infeksi akibat skin barrier rusak.

Pengalaman Desty menjadi peringatan keras bagi masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan krim wajah tanpa resep dokter.

Krim murah beretiket biru yang beredar bebas bisa mengandung bahan berbahaya seperti steroid.
“Pesan saya, jangan gunakan krim etiket biru dalam jangka panjang tanpa konsultasi rutin ke dokter. Kita nggak pernah tahu apa kandungannya,” tutup Desty. (net/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Klinik Kecantikan #steroid #viral #krim etiket biru #Skin barrier #kulit #kulit glowing #kecantikan