RADAR SURABAYA — Puasa kerap dianggap sebagai momentum tepat untuk menurunkan berat badan. Namun, tidak sedikit orang justru mengalami kenaikan angka timbangan selama Ramadan. Salah satu penyebab utamanya adalah pola makan yang tidak terkendali saat berbuka maupun sahur.
Waktu berbuka sering dimaknai sebagai ajang “balas dendam” setelah seharian menahan lapar dan haus. Konsumsi makanan manis, gorengan, serta hidangan berlemak dalam jumlah berlebih tanpa disadari membuat asupan kalori melonjak drastis dalam waktu singkat.
Baca Juga: Diet Mediterania Kembali Jadi Pola Makan Terbaik, Sehat dan Mudah Diterapkan Jangka Panjang
Dokter spesialis gizi klinik Juwalita Surapsari menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi takjil berlebihan dapat memicu kenaikan berat badan. “Pada saat makan malam disarankan menghindari makanan berlemak tinggi cenderung lebih lambat keluar dari lambung. Saat sahur, hindari makanan terlalu asin, karena dapat membuat cepat haus saat berpuasa,” tuturnya, dikutip dari kanal YouTube.
Makanan tinggi lemak memang lebih lama dicerna tubuh. Jika dikonsumsi berlebihan, kalori yang tidak terpakai akan menumpuk dan berujung pada peningkatan berat badan. Di sisi lain, makanan atau minuman terlalu manis dapat memicu lonjakan insulin secara cepat. Kondisi tersebut sering membuat rasa lapar datang kembali dalam waktu singkat, sehingga mendorong seseorang makan lebih banyak.
“Hindari makanan terlalu manis untuk mencegah meningkatkan respon insulin yang cepat sehingga puasa tidak cepat terasa lapar. Hindari mengandung kafein, karena ada efek diuretik yang membuat buang air kecil jadi berlebihan, khawatirnya cenderung dehidrasi,” tambah dr. Juwalita.
Baca Juga: 11 Penyebab Diet Gagal, Dari Stres hingga Target Tidak Realistis yang Harus Diwaspadai
Selain pola makan, kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang berpengaruh. Banyak orang memilih mengurangi aktivitas karena merasa lemas saat berpuasa. Padahal, tubuh tetap memerlukan gerak untuk menjaga metabolisme dan membakar kalori. Tanpa aktivitas yang cukup, kelebihan energi dari makanan akan lebih mudah disimpan sebagai lemak.
Karena itu, pengaturan pola makan menjadi kunci utama. Disarankan memulai berbuka dengan air putih dan makanan ringan secukupnya, kemudian memberi jeda sebelum menyantap makanan utama. Pilih menu seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan buah. Batasi gorengan, makanan bersantan, serta minuman tinggi gula.
Saat sahur, pilih makanan yang memberi rasa kenyang lebih lama, seperti sumber protein dan serat. Hindari makanan terlalu asin agar tidak cepat haus, serta batasi minuman berkafein untuk menekan risiko dehidrasi.
Baca Juga: Minuman Diet Picu Risiko Kerusakan Liver Lebih Cepat daripada Minuman Bergula, Ungkap Studi Terbaru
Aktivitas fisik tetap dianjurkan selama Ramadan. “Tetaplah olahraga secara teratur. Olahraga direkomendasikan bisa setelah sahur, 1 jam sebelum berbuka puasa, atau 1 jam setelah berbuka puasa. Jadi tetap aktif dan jaga asupan makan,” kata dr. Juwalita.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan membangun pola hidup lebih seimbang. Dengan pengaturan makan yang tepat dan tetap aktif bergerak, Ramadan bisa menjadi momen menjaga kesehatan, bukan justru menambah berat badan. (sry/fir)
Editor : M Firman Syah