Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Anak Muda Sering Dianggap Melawan Arus, Ternyata Ini Penjelasan Psikolog Dunia

Muhammad Firman Syah • Senin, 16 Februari 2026 | 13:33 WIB

Anak muda mengekspresikan jati diri dengan berani melawan arus sosial sekitarnya.
Anak muda mengekspresikan jati diri dengan berani melawan arus sosial sekitarnya.

RADAR SURABAYA – Fenomena anak muda yang kerap dianggap “melawan arus” sering menjadi perbincangan. Mulai dari pilihan gaya hidup, cara berpikir, hingga sikap terhadap norma sosial, generasi muda dinilai berbeda dari generasi sebelumnya. Namun dalam perspektif psikologi perkembangan, sikap tersebut tidak selalu berarti pembangkangan.

Psikolog perkembangan asal Jerman-Amerika, Erik Erikson, menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase krusial dalam pembentukan identitas. Dalam teori tahapan perkembangan psikososialnya, remaja berada pada tahap identity vs. role confusion atau identitas versus kebingungan peran.

Baca Juga: Berpikir Kritis, Bekal Penting Anak Muda Hadapi Era Digital

Dalam bukunya Identity: Youth and Crisis, Erikson menyebut bahwa pada fase ini individu berupaya menemukan jati diri, nilai yang diyakini, serta posisi yang ingin diambil di tengah masyarakat. Proses tersebut sering kali membuat remaja mempertanyakan aturan, tradisi, bahkan otoritas yang ada.

Sikap yang terlihat sebagai “melawan arus” dapat dipahami sebagai bagian dari eksplorasi identitas. Remaja mencoba berbagai peran dan sudut pandang sebelum akhirnya menentukan pilihan yang dirasa paling sesuai dengan dirinya. Perbedaan pendapat atau gaya hidup, dalam konteks ini, merupakan proses alami menuju kedewasaan.

Baca Juga: Kopi Susu Gula Aren Geser Miras, Jadi Tren Nongkrong Baru Anak Muda

Erikson juga menekankan bahwa kegagalan menemukan identitas dapat memunculkan kebingungan peran. Kondisi tersebut bisa membuat remaja merasa kehilangan arah atau terasing. Karena itu, sebagian anak muda mengambil posisi yang kontras dengan lingkungannya sebagai cara menegaskan eksistensi diri.

Pembentukan identitas, menurut Erikson, tidak terjadi secara terpisah dari lingkungan sosial. Keluarga, sekolah, dan masyarakat berperan penting dalam menyediakan ruang dialog yang sehat. Dukungan yang seimbang dengan batasan yang jelas dapat membantu remaja menyalurkan perbedaan pandangan menjadi diskusi yang konstruktif.

Baca Juga: Dosen Psikologi Ubaya Sebut Pelaku Child Grooming Lazim Gunakan Pola Manipulasi

Di era digital, proses pencarian jati diri semakin kompleks. Media sosial memberi ruang luas untuk berekspresi sekaligus memunculkan tekanan perbandingan sosial. Meski begitu, gagasan Erikson tetap relevan: setiap individu membutuhkan pengakuan sebagai pribadi yang unik.

Dengan demikian, sikap anak muda yang tampak melawan arus tidak selalu identik dengan kenakalan. Dalam kacamata psikologi perkembangan, hal itu merupakan bagian penting dari perjalanan menemukan identitas dan membangun kedewasaan. (sry/fir)

Editor : M Firman Syah
#Era Digital #generasi muda #anak muda #psikologi perkembangan #Pencarian Identitas Remaja