Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Diet Mediterania Kembali Jadi Pola Makan Terbaik, Sehat dan Mudah Diterapkan Jangka Panjang

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 14 Februari 2026 | 08:37 WIB

Diet Mediterania: Pola makan sehat yang terinspirasi dari masyarakat sekitar Laut Mediterania.
Diet Mediterania: Pola makan sehat yang terinspirasi dari masyarakat sekitar Laut Mediterania.

RADAR SURABAYA – Diet Mediterania kembali dinobatkan sebagai pola makan terbaik di dunia selama tujuh tahun berturut-turut versi U.S. News and World Report. Predikat tersebut diberikan karena pola ini dinilai mudah diterapkan dalam jangka panjang serta terbukti memberi manfaat signifikan bagi kesehatan.

Berbeda dari program diet ketat yang membatasi asupan secara ekstrem, Diet Mediterania lebih tepat disebut sebagai pola makan atau gaya hidup sehat. Fokusnya pada konsumsi makanan alami, seimbang, dan fleksibel.

Ahli gizi Maya Feller yang tergabung dalam panel Best Diets U.S. News and World Report menilai istilah “diet” kerap disalahartikan sebagai pembatasan makan.

“Ini bukan diet dalam arti membatasi secara ketat, melainkan pola makan yang bisa disesuaikan dengan budaya, akses pangan, dan preferensi masing-masing individu,” ujarnya.

Baca Juga: 11 Penyebab Diet Gagal, Dari Stres hingga Target Tidak Realistis yang Harus Diwaspadai

Pola makan ini terinspirasi dari kebiasaan masyarakat di kawasan Laut Mediterania seperti Yunani, Italia, dan Spanyol. Komposisinya didominasi sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, minyak sehat seperti minyak zaitun, serta produk fermentasi. Konsumsi daging merah, makanan ultra-proses, dan gula tambahan dibatasi.

Menariknya, prinsip Diet Mediterania dapat diterapkan menggunakan bahan pangan lokal tanpa mengurangi manfaat kesehatannya. Di Indonesia, ikan laut seperti tongkol, kembung, dan tuna bisa menjadi sumber omega-3 pengganti salmon. Protein nabati dapat diperoleh dari kacang merah, kacang hijau, hingga tempe sebagai alternatif chickpeas atau lentil.

Baca Juga: Minuman Diet Picu Risiko Kerusakan Liver Lebih Cepat daripada Minuman Bergula, Ungkap Studi Terbaru

Sayuran lokal seperti bayam, kangkung, daun kelor, dan labu juga selaras dengan konsep pola makan ini. Produk fermentasi tradisional seperti tempe dan tape singkong pun sesuai dengan anjuran konsumsi makanan fermentasi.

Dalam praktiknya, Diet Mediterania mendorong konsumsi buah dan sayur di setiap waktu makan, ikan beberapa kali dalam sepekan, serta biji-bijian utuh dan kacang-kacangan secara rutin. Produk susu fermentasi seperti yogurt dianjurkan dalam porsi wajar.

Sebaliknya, karbohidrat olahan seperti roti putih, minuman manis, serta makanan tinggi gula dan lemak jenuh sebaiknya dibatasi. Konsumsi alkohol yang kerap dikaitkan dengan pola ini tidak bersifat wajib dan dapat dihindari.

Baca Juga: 15 Menu Camilan Malam Sehat untuk Diet: Rendah Kalori, Tinggi Nutrisi, dan Tetap Mengenyangkan

Sejumlah penelitian menunjukkan Diet Mediterania mampu menurunkan risiko penyakit jantung hingga 30 persen pada kelompok berisiko tinggi. Pola makan ini juga berkontribusi menekan risiko obesitas, diabetes, hipertensi, serta kadar kolesterol tinggi.

Manfaat lain yang turut dicatat antara lain peningkatan kepadatan tulang, kekuatan otot, hingga penurunan peradangan kronis. Dengan pendekatan yang fleksibel dan berbasis makanan alami, Diet Mediterania dinilai sebagai pilihan pola hidup sehat yang berkelanjutan. (shf/fir)

Editor : M Firman Syah
#gaya hidup sehat #kesehatan jantung #pola makan sehat #diet #penyakit kronis