SIDOARJO — Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, sebuah kamar kecil di Desa Karangtanjung, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, dipenuhi aroma lem dan cat. Dari ruang sederhana itulah Yulius Setiawan merangkai perlengkapan Barongsai dan Liang-liong, menjaga denyut tradisi agar tetap hidup dan menari ke berbagai daerah.
Pasca-pandemi Covid-19, geliat perayaan budaya kembali menggeliat. Hal itu turut berdampak pada meningkatnya permintaan perlengkapan seni Barongsai dan Liang-liong. Dari tahun ke tahun, pesanan terus bertambah seiring kembalinya perayaan Imlek yang digelar secara langsung.
Baca Juga: Pertunjukan Barongsai Meriahkan Rangkaian Acara Imlek di Ciputra World Surabaya
Yulius mengungkapkan, pesanan datang dari berbagai wilayah. Tidak hanya dari Jawa Timur, hasil karyanya kini juga merambah ke luar Jawa, mengikuti semangat perayaan Imlek hingga ke kawasan timur Indonesia.
“Tahun ini sekitar enam Barongsai dan tiga Liang-liong. Baru-baru ini ada yang dikirim ke luar pulau, satu unit ke Nusa Tenggara Timur,” ujarnya, Selasa (10/2).
Baca Juga: Barongsai Tonggak Bukan Sekadar Atraksi, Namun Mengandung Filosofi Kehidupan
Di balik penampilannya yang meriah saat perayaan, proses pembuatan Barongsai dan Liang-liong membutuhkan waktu panjang. Seluruh tahapan dikerjakan secara manual, menuntut ketelitian dan kesabaran tinggi. Bagi Yulius, detail adalah ruh utama dari seni tersebut.
“Untuk Barongsai, prosesnya sekitar satu bulan. Kalau naganya (Liang-liong) bisa sampai dua bulan karena ukurannya panjang dan saya mengerjakannya sangat rinci,” jelasnya.
Baca Juga: Barongsai Akan Diperkenalkan di Porprov IX Jawa Timur 2025, 14 Nomor Dipertandingkan
Tantangan lain datang dari ketersediaan bahan baku. Tidak semua material tersedia di dalam negeri. Karena itu, Yulius kerap memadukan bahan lokal dengan material impor agar hasil akhir tetap memenuhi standar seni tradisional. (rra/fir)
Editor : M Firman Syah