Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kematian Akibat Gangguan Jantung Tinggi, Dibutuhkan Sistem Pelayanan yang Lebih Baik

Rahmat Sudrajat • Selasa, 10 Februari 2026 | 17:25 WIB

 

PRAKTIK: Simulasi penanganan kegawatdaruratan jantung. Penanganan cepat dapat mengatasi angka kematian.
PRAKTIK: Simulasi penanganan kegawatdaruratan jantung. Penanganan cepat dapat mengatasi angka kematian.

RADAR SURABAYA - Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyebab utama kematian di dunia dan di Indonesia.

Data menunjukkan penyakit jantung koroner dan stroke menempati peringkat teratas penyebab kematian, dengan ratusan ribu kasus setiap tahunnya di Indonesia.

Sebagian besar kematian terjadi pada fase gawat darurat, ketika waktu menjadi faktor penentu hidup dan mati.

Pakar kegawatdaruratan jantung, Prof. Dr. Andrianto, dr. Sp. JP., Subsp I.K Kv (K) mengatakan, upaya mempercepat penanganan gangguan jantung akut yang mengancam jiwa, sangat penting.

"Kegawatdaruratan jantung tidak semata persoalan klinis, melainkan persoalan sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh," ujarnya, Selasa (10/2).

Gangguan jantung akut seperti serangan jantung koroner akut, gagal jantung akut, dan henti jantung merupakan kondisi yang sangat bergantung pada kecepatan penanganan.

Dalam ilmu kegawatdaruratan jantung, kondisi ini dikenal sebagai time-dependent cardiovascular emergencies dengan prinsip time is muscle, time is life yang memiliki dasar biologis yang kuat.

Menurut Prof. Andrianto, tingginya kematian akibat kegawatdaruratan jantung di Indonesia bukan hanya karena beratnya penyakit, namun juga dipengaruhi keterlambatan penanganan pada seluruh rantai pelayanan.

"Tingginya kematian kegawatdaruratan jantung di Indonesia bukan hanya oleh beratnya penyakit, namun sangat dipengaruhi keterlambatan penanganan pada seluruh rantai pelayanan. Mulai dari pra berobat hingga saat berobat. Bukan hanya rendahnya kesadaran terhadap bahaya kondisi tersebut, namun juga pelayanan medis yang cenderung belum optimal," jelasnya.

Menurutnya, redesain sistem pelayanan sangat diperlukan untuk mengoptimalkan penanganan kegawatdaruratan jantung, yang didasarkan pada lima filosofi utama: filosofi waktu, filosofi integrasi, filosofi keadilan akses, filosofi pemberdayaan masyarakat, dan filosofi keberlanjutan serta pembelajaran sistem berbasis data.

"Redesain sistem meliputi penguatan peran masyarakat sebagai first responder, pembangunan pelayanan medis emergensi terintegrasi, penegasan peran fasilitas kesehatan primer serta penerapan time-based clinical pathway di rumah sakit," tuturnya.

Sistem rujukan harus didesain berbasis waktu, bukan administratif, dengan dukungan telekardiologi dan digital health untuk pengambilan keputusan real-time.

Selain itu, regionalisasi penanganan kegawatdaruratan jantung berbasis data geospasial menjadi kunci untuk mengatasi tantangan geografis Indonesia, sehingga pasien dapat dirujuk langsung ke fasilitas yang paling mampu dalam waktu tercepat.

Dengan demikian, penanganan kegawatdaruratan jantung bisa dilakukan dengan efisien dan tepat waktu.

"Redesain sistem penanganan gawat darurat jantung merupakan kebutuhan mendesak dan tanggung jawab etik untuk menurunkan kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Dengan menempatkan waktu sebagai variabel keadilan dan sistem sebagai penentu utama luaran klinis, diharapkan lebih banyak nyawa dapat diselamatkan melalui sistem kegawatdaruratan jantung yang terintegrasi dan berbasis bukti," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#penyakit jantung #fase gawat darurat #penyebab utama kematian #Faktor Penentu #penyakit pembuluh darah #redesain pelayanan