Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Gen Z Pilih Living Together, Ini Alasan di Balik Tren Tinggal Serumah

Muhammad Firman Syah • Selasa, 10 Februari 2026 | 05:10 WIB

Ilustrasi: marak living together dikalangan gen z.
Ilustrasi: marak living together dikalangan gen z.

RADAR SURABAYA – Fenomena living together atau tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan kian marak di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa. Melalui media sosial, tidak sedikit pasangan yang secara terbuka membagikan pengalaman hidup bersama sebelum menikah.

Bagi sebagian pihak, praktik ini dianggap wajar selama dilandasi rasa saling nyaman. Namun, fenomena tersebut juga memicu pro dan kontra karena dinilai bertentangan dengan nilai agama, budaya, dan norma sosial yang berlaku di Indonesia.

Baca Juga: Gaya Hidup Slow Living Jadi Pilihan Gen Z Hadapi Tekanan Modernitas

Salah satu faktor yang mendorong remaja memilih kohabitasi adalah perubahan cara pandang terhadap hubungan dan institusi pernikahan. Sejumlah anak muda menilai pernikahan sebagai sesuatu yang konvensional dengan aturan yang dianggap rumit. Sebagai alternatif, hidup bersama dipandang sebagai bentuk hubungan yang lebih fleksibel dan dianggap mampu merepresentasikan perasaan cinta secara lebih autentik.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yulinda Nurul Aini menyebut terdapat tiga faktor utama yang mendorong pasangan di Manado memilih tinggal bersama tanpa menikah. Faktor tersebut meliputi tekanan finansial, proses perceraian yang dinilai rumit, serta adanya penerimaan dari masyarakat sekitar.

Baca Juga: Gen Z Tak Mau Jadi Penonton, Bisnis Digital Jadi Pilihan Mulai Muda

“Analisis yang saya lakukan terhadap data dari Pendataan Keluarga 2021 (PK21) yang dimiliki oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa 0,6 persen dari populasi kota Manado, Sulawesi Utara, terlibat dalam kohabitasi,” jelas Yulinda.

Dari sisi kesehatan, praktik hidup bersama tanpa ikatan pernikahan juga dinilai berpotensi memengaruhi kualitas hidup. Sejumlah kajian menyebut kohabitasi dapat berkaitan dengan menurunnya kepuasan hidup serta munculnya persoalan kesehatan mental. Faktor seperti minimnya komitmen, kurangnya kepercayaan antar pasangan, hingga ketidakpastian masa depan disebut turut berkontribusi.

Baca Juga: Gaya Hidup Slow Living Jadi Pilihan Gen Z Hadapi Tekanan Modernitas

Meski demikian, pandangan masyarakat terhadap fenomena ini beragam. Sebagian menganggap hidup bersama sebagai bentuk keterbukaan dan kejujuran dalam hubungan, sementara yang lain menilainya bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut. Perbedaan perspektif tersebut menunjukkan bahwa fenomena living together masih menjadi perdebatan di tengah perubahan gaya hidup generasi muda. (rra/fir)

Editor : M Firman Syah
#Living Together #pernikahan #Gen Z #kualitas hidup #tinggal serumah