RADAR SURABAYA — Sikap galak atau defensif saat ditagih utang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, reaksi tersebut tidak selalu mencerminkan karakter buruk atau kurangnya etika. Menurut psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Riati Sri Hartini, SpKj, MSc, perilaku itu muncul dari interaksi kompleks antara tekanan emosional, stres finansial, dan respons biologis otak.
Secara psikologis, penagihan utang tidak hanya menyangkut persoalan uang. Situasi ini juga menyentuh harga diri dan identitas pribadi. Ketika seseorang diingatkan pada kewajiban finansial yang belum mampu dipenuhi, rasa malu dan terancam kerap muncul. Kondisi tersebut memicu respons emosional berupa marah atau sikap defensif sebagai mekanisme perlindungan diri.
Dari sisi biologis, tekanan saat ditagih utang melibatkan kerja amigdala, bagian otak yang berfungsi mendeteksi ancaman. Pada saat bersamaan, fungsi prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan rasional dan pengendalian emosi dapat melemah. “Otak masuk pada mode fight or flight, sehingga respons yang muncul lebih bersifat defensif atau agresif,” ujar dr. Riati.
Ia menegaskan, reaksi tersebut tergolong respons stres akut dan masih dalam batas normal jika hanya muncul pada situasi tertentu, seperti saat menghadapi tekanan utang. Perilaku itu bukan serta-merta menandakan gangguan kejiwaan, melainkan reaksi tubuh terhadap tekanan emosional yang kuat.
Baca Juga: Kodak sang Raja Film Kamera, Terancam Tumbang Oleh Hutang
Faktor stres finansial juga berperan besar. Utang kerap hadir bersamaan dengan masalah ekonomi lain, mulai dari kebutuhan hidup, tanggungan keluarga, hingga penghasilan yang tidak stabil. Tekanan berkepanjangan membuat individu lebih rentan kehilangan kendali emosi. Akibatnya, penagihan yang sebenarnya biasa saja bisa menjadi pemicu ledakan emosi.
Selain itu, cara penagihan turut memengaruhi respons peminjam. Penagihan dengan nada menghakimi, menekan, atau dilakukan berulang kali cenderung memicu reaksi keras. Sebaliknya, pendekatan yang empatik dan komunikatif dinilai lebih efektif meredakan ketegangan dan membuka ruang dialog.
Para ahli juga menyebut ketakutan akan dampak sosial—seperti rusaknya hubungan atau jatuhnya reputasi—sebagai faktor yang memperkuat respons emosional negatif. Saat merasa terpojok, seseorang bisa bereaksi dengan penolakan, penghindaran, hingga sikap agresif demi mempertahankan rasa kontrol. (sry/fir)
Editor : M Firman Syah