RADAR SURABAYA – Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, produktif, dan hampir selalu terhubung secara digital, banyak orang tanpa sadar kehilangan kemampuan paling mendasar, yakni hadir sepenuhnya pada saat ini. Ironisnya, ketika pikiran terasa penuh, cemas, atau lelah secara emosional, tubuh kerap memberikan isyarat sederhana namun bermakna, keluar sejenak dan berjalan.
Hal tersebut bukan tanpa alasan. Berjalan kaki memiliki dasar ilmiah sebagai cara efektif untuk menenangkan sistem saraf, merapikan pikiran, serta memperbaiki suasana hati, bahkan hanya dalam waktu singkat.
Baca Juga: Tren Japanese Walking Viral di TikTok, Efektif Tingkatkan Kesehatan Jantung dan Stamina
Salah satu pendekatan yang kini semakin mendapat perhatian adalah mindful walking. Berbeda dengan berjalan biasa yang berorientasi pada tujuan, mindful walking menekankan kesadaran penuh dalam setiap langkah.
Praktik ini mengajak seseorang untuk memperhatikan napas, gerakan tubuh, sentuhan telapak kaki dengan tanah, serta rangsangan dari lingkungan sekitar—apa yang terlihat, terdengar, dan tercium. Fokus utamanya bukan pada ke mana kita pergi, melainkan bagaimana kita benar-benar hadir selama proses berjalan.
Ketua Departemen Preventive Medicine di Loma Linda University Health, Karen Studer, MD, menjelaskan bahwa mindful walking dapat dilakukan dengan cara yang berbeda oleh setiap individu.
“Mindful walking tidak hanya berfokus pada pencapaian tujuan, tetapi pada bagaimana tubuh dan pikiran hadir sepenuhnya dalam setiap langkah,” jelasnya.
Baca Juga: Micro-Workout, Solusi Olahraga Singkat bagi Pekerja Kantoran Minim Waktu
Konsep ini memiliki kemiripan dengan forest bathing dari Jepang, yaitu praktik menenangkan diri dengan menyatu bersama alam melalui pancaindra. Perbedaannya, mindful walking tidak terbatas pada hutan atau alam terbuka. Praktik ini dapat dilakukan di mana saja, seperti taman kota, trotoar di lingkungan rumah, bahkan di jalur yang sama setiap hari.
Kabar baiknya, mindful walking tidak membutuhkan waktu lama. Studi menunjukkan bahwa berjalan kaki selama 10 menit saja sudah dapat membantu menurunkan kecemasan dan memperbaiki suasana hati. Aktivitas ini merangsang pelepasan serotonin, senyawa kimia di otak yang berperan dalam mengatur emosi.
Psikolog dan clinical assistant professor di NYU Grossman School of Medicine, Rachel Goldman, Ph.D., menyebut berjalan kaki sebagai tombol restart alami bagi pikiran.
“Karena adanya hubungan yang kuat antara pikiran dan tubuh, berjalan ibarat menekan tombol restart,” ungkap Goldman.
Baca Juga: Warga Manfaatkan CFD Hari Pertama di Alun-Alun Sidoarjo, dari Olahraga hingga Berburu Layanan Publik
Manfaat mindful walking tidak berhenti pada rasa tenang. Praktik ini juga membantu mengelola stres dengan menurunkan kadar kortisol, hormon yang berkaitan dengan gangguan metabolik dan peningkatan berat badan.
Selain itu, meningkatnya kesadaran tubuh membuat seseorang lebih peka terhadap sinyal lapar, kenyang, ketegangan otot, hingga postur tubuh, yang pada akhirnya mendorong pilihan hidup yang lebih sehat.
Berjalan di luar ruangan juga memberikan manfaat tambahan, seperti paparan sinar matahari untuk membantu pembentukan vitamin D, peningkatan kualitas tidur melalui ritme sirkadian yang lebih seimbang, serta peningkatan fokus, memori, dan suasana hati. Bahkan, aktivitas ini membuka ruang interaksi sosial sederhana yang dapat memperkuat rasa keterhubungan dan kesehatan mental.
Pada akhirnya, mindful walking menawarkan cara yang mudah dan terjangkau untuk merawat tubuh dan pikiran—cukup dengan melangkah, sadar, dan hadir sepenuhnya dalam setiap langkah. (shf/fir)
Editor : M Firman Syah