Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Soft Saving, Gaya Menabung Fleksibel Ala Generasi Z di Tengah Tekanan Ekonomi

Muhammad Firman Syah • Kamis, 5 Februari 2026 | 08:14 WIB

Soft Saving: Gaya menabung generasi z.
Soft Saving: Gaya menabung generasi z.

RADAR SURABAYA — Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, menabung secara konsisten menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi generasi muda. Kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak selalu diimbangi peningkatan pendapatan membuat target menabung dalam jumlah besar kerap terasa berat.

Situasi tersebut mendorong munculnya tren baru di kalangan Generasi Z, yakni metode menabung yang dikenal dengan istilah soft saving. Berbeda dengan pola menabung konvensional yang menuntut target nominal besar dan disiplin ketat, soft saving menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dan minim tekanan. Metode ini menekankan konsistensi, sekaligus dinilai lebih ramah bagi kesehatan mental.

Tren soft saving yang berkembang di kalangan Gen Z ini turut diperkuat pernyataan akuntan publik bersertifikat sekaligus pendiri The DoubleLine, Eleanor Victorioso.

“Kita dapat melihat bahwa generasi muda saat ini terutama pada gen z, mereka adalah pendukung paling vokal dari soft saving,” ujar Eleanor.

Baca Juga: Tak Lagi Tunggu Rambut Memutih, Gen Z dan Milenial KIni Ramai-Ramai Menabung Haji

Secara konsep, soft saving merupakan kebiasaan menabung dengan nominal kecil dan tidak selalu tetap, namun dilakukan secara rutin. Fokusnya bukan hanya pada persiapan masa depan, tetapi juga pada kenyamanan hidup saat ini. Prinsip utamanya adalah menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dengan perencanaan keuangan jangka panjang, sehingga generasi muda tetap dapat menikmati hidup tanpa terbebani target finansial yang terlalu tinggi.

Metode ini dinilai realistis karena selaras dengan gaya hidup Gen Z yang aktif dan dinamis. Aktivitas seperti bepergian, nongkrong, menonton konser, hingga membeli gawai tetap bisa dilakukan selama masih ada dana yang disisihkan untuk tabungan. Ketiadaan target nominal bulanan yang kaku juga membuat soft saving minim tekanan dan lebih mudah dijalani.

Baca Juga: Hasil Survei LPS Sebut Indeks Menabung Konsumen Melemah

Keunggulan lainnya terletak pada fleksibilitas penggunaan dana. Tabungan dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu untuk kebutuhan mendesak. Kebiasaan menyisihkan uang secara rutin, meski dalam jumlah kecil, turut membangun kesadaran dan disiplin dalam mengelola keuangan. Kehadiran aplikasi keuangan dan layanan bank digital semakin memudahkan penerapan metode ini.

Untuk memulai soft saving, langkah sederhana dapat dilakukan dengan menyisihkan nominal kecil namun konsisten, seperti Rp10.000 hingga Rp20.000 per hari. Pemanfaatan aplikasi keuangan dengan fitur tabungan terpisah juga membantu pengelolaan dana sesuai kebutuhan. Penetapan tujuan yang realistis dinilai penting agar motivasi menabung tetap terjaga.

Baca Juga: Tukang Pijat di Surabaya Wujudkan Mimpi Pergi Haji Bersama Istri Setelah Bertahun-tahun Menabung

Meski demikian, soft saving juga memiliki potensi risiko. Menabung dengan nominal kecil dalam jangka panjang dapat menghambat peluang investasi sejak dini. Padahal, investasi di usia muda berperan penting dalam membangun kestabilan finansial. Tanpa perencanaan yang matang, metode ini juga berisiko membuat seseorang hidup dari gaji ke gaji dengan tabungan terbatas.

Karena itu, soft saving perlu diterapkan secara bijak. Menyeimbangkan gaya hidup, tabungan, dan investasi tetap menjadi kunci agar kondisi keuangan di masa depan lebih aman dan berkelanjutan. (shf/fir)

Editor : M Firman Syah
#masa depan #Investasi #fleksibel #Soft Saving #menabung