RADAR SURABAYA – Kesibukan kerja kantoran kerap menjadi alasan utama olahraga terus tertunda. Rutinitas dari pagi hingga sore yang didominasi duduk di depan layar membuat tubuh minim pergerakan. Tanpa disadari, kebiasaan ini membentuk gaya hidup sedentari yang berisiko memicu berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun mental.
Menjawab kondisi tersebut, tren micro-workout mulai mendapat perhatian sebagai solusi olahraga yang praktis dan realistis di era kerja modern. Micro-workout merupakan konsep olahraga singkat dengan durasi hanya beberapa menit, namun tetap mampu mengajak tubuh bergerak aktif.
Baca Juga: Warga Manfaatkan CFD Hari Pertama di Alun-Alun Sidoarjo, dari Olahraga hingga Berburu Layanan Publik
Tanpa memerlukan alat khusus atau persiapan rumit, micro-workout dapat dilakukan di sela-sela jam kerja. Inilah yang membuatnya cocok bagi pekerja kantoran yang ingin tetap sehat tanpa harus menyisihkan waktu khusus untuk pergi ke pusat kebugaran.
Fenomena micro-workout ini juga mendapat dukungan dari Wakil Direktur Mackenzie Wearables Research Hub sekaligus anggota Charles Perkins Centre, Matthew Ahmadi. Ia menekankan pentingnya aktivitas fisik kecil dalam keseharian.
“Daripada khawatir harus pergi ke gym selama satu jam, fokuslah pada olahraga kecil yang bisa dilakukan dalam rutinitas harian,” ujarnya.
Baca Juga: Dominasi Prestasi Atlet Jawa Timur dan Paradoks Minimnya Anggaran Olahraga
Salah satu manfaat utama micro-workout adalah membantu tubuh tetap aktif di tengah jadwal yang padat. Olahraga singkat ini dapat dilakukan kapan saja, seperti di antara rapat atau saat jeda kerja. Gerakan sederhana seperti peregangan, squat ringan, atau berjalan di tempat sudah cukup untuk mengaktifkan otot.
Meski hanya berlangsung sekitar lima menit, jika dilakukan secara konsisten, micro-workout efektif melawan dampak negatif duduk terlalu lama. Kebiasaan kecil ini juga mendorong kesadaran akan pentingnya mendengarkan kebutuhan tubuh.
Selain menjaga kebugaran, micro-workout terbukti membantu meningkatkan fokus dan energi saat bekerja. Setelah berjam-jam menatap layar, rasa lelah dan brain fog kerap muncul. Dengan menggerakkan tubuh sejenak, aliran darah ke otak menjadi lebih lancar sehingga pikiran terasa lebih segar.
Olahraga ringan ini juga dapat mengurangi rasa kantuk di jam-jam rawan tanpa harus bergantung pada konsumsi kafein. Dampaknya, produktivitas kerja pun meningkat secara alami.
Baca Juga: Tiga Atlet Nasional Resmi Jadi Mahasiswa UMSURA, Siap Jalani Karier Ganda Olahraga dan Akademik
Manfaat lainnya terlihat pada kesehatan otot dan sendi. Posisi duduk terlalu lama berpotensi menyebabkan otot kaku serta nyeri pada leher, bahu, dan punggung. Micro-workout membantu menjaga fleksibilitas tubuh melalui gerakan peregangan ringan, sehingga risiko pegal dan gangguan postur dapat diminimalkan dalam jangka panjang.
Tak kalah penting, micro-workout juga berperan dalam menjaga kesehatan mental. Tekanan pekerjaan dan target yang menumpuk sering memicu stres. Aktivitas fisik ringan membantu pelepasan hormon endorfin yang membuat suasana hati lebih baik. Lima menit bergerak pun bisa menjadi jeda berharga di tengah hari yang padat.
Keunggulan micro-workout terletak pada kesederhanaannya. Tanpa pakaian olahraga khusus atau ruang tertentu, aktivitas ini mudah diterapkan dan minim hambatan. Tren micro-workout membuktikan bahwa hidup sehat tidak selalu menuntut waktu panjang. Dengan langkah kecil yang dilakukan secara rutin, dampaknya bisa terasa besar bagi kesehatan fisik dan mental. (shf/fir)
Editor : M Firman Syah