RADAR SURABAYA – Cara Generasi Z dan Milenial menikmati liburan terus mengalami perubahan. Dua generasi ini kini tak lagi terpaku pada destinasi wisata populer yang padat pengunjung. Sebaliknya, mereka lebih tertarik menjelajahi tempat-tempat yang masih sepi, jarang dieksplorasi, dan jauh dari keramaian.
Pergeseran preferensi tersebut turut dipengaruhi faktor musim di negara-negara dengan empat musim. Negara-negara Asia Tenggara, misalnya, mengalami peningkatan kunjungan saat musim dingin dan musim semi. Sementara kawasan Eropa dan Asia Tengah cenderung diminati saat musim panas dan musim gugur.
Baca Juga: Mudik atau Liburan ke Kota Pahlawan? Ini 5 Keuntungan Sewa Motor di Surabaya untuk Hindari Macet
Pendiri EaseMyTrip, Rikant Pittie, menyebut tren ini didorong keinginan wisatawan muda untuk mendapatkan pengalaman yang lebih autentik. Mereka ingin membangun koneksi yang lebih bermakna dengan budaya lokal, lingkungan alam, serta masyarakat setempat, sekaligus menghindari destinasi yang dianggap terlalu ramai dan klise.
“Daya tarik pariwisata berkelanjutan semakin meningkat. Wisatawan kini lebih memilih akomodasi ramah lingkungan, aktivitas yang tidak merusak alam, serta mendukung bisnis lokal sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan tradisi setempat,” ujarnya.
Baca Juga: Akhiri Liburan Nataru dengan Naik Kuda di Taman Suroboyo
Sejumlah negara seperti Indonesia, Vietnam, Georgia, Filipina, dan Malaysia kini berkembang menjadi destinasi favorit bagi Generasi Z dan Milenial. Pada kelompok usia 18 hingga 24 tahun, tercatat kenaikan anggaran perjalanan hingga 20 persen, seiring meningkatnya minat terhadap destinasi yang tidak lazim.
Meski demikian, terdapat perbedaan karakter antara kedua generasi tersebut. Generasi Milenial masih mengalokasikan sebagian besar anggaran mereka ke destinasi wisata yang sudah umum dikenal. Sebaliknya, Generasi Z cenderung membelanjakan dana lebih besar untuk menjelajahi destinasi yang belum banyak diketahui.
Baca Juga: Semua Satwa Difavoritkan, 180 Ribu Orang Liburan ke KBS saat Nataru
Selain perubahan preferensi, perkembangan teknologi juga dinilai berperan besar dalam tren ini. Kehadiran kecerdasan buatan, rekomendasi perjalanan berbasis minat personal, hingga kunjungan virtual memudahkan wisatawan merencanakan perjalanan ke destinasi alternatif yang sebelumnya kurang dikenal. (rra/fir)
Editor : M Firman Syah