Radar Surabaya – Metode belajar mencongak pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari pelajaran matematika di sekolah, khususnya pada era milenial. Seiring perubahan kurikulum dan pesatnya kemajuan teknologi, metode ini kini mulai jarang ditemui. Tak sedikit yang kemudian bertanya, apakah generasi Gen Z akhir hingga Alpha masih mengenal mencongak sebagai cara berhitung cepat tanpa alat bantu.
Mencongak merupakan teknik menghitung tanpa menggunakan alat bantu apa pun, hanya mengandalkan ingatan. Dalam metode ini, yang dituliskan hanya hasil akhir perhitungan. Mencongak menjadi salah satu pendekatan yang digunakan pengajar dalam evaluasi pembelajaran matematika. Soal disampaikan secara lisan, sementara jawaban ditulis oleh siswa.
Baca Juga: Mahasiswa FIK Universitas Surabaya Ciptakan Boneka Edukatif untuk Pendidikan Seks Usia Dini
Dalam praktiknya, penggunaan perangkat bantu hitung maupun catatan tidak diperkenankan. Pendekatan ini memberi keleluasaan kepada siswa dalam menentukan cara berhitung. Pengajar juga mendorong siswa untuk berimajinasi dan mengolah angka secara mental.
Mahasiswi Syifa Latifah menilai, mencongak merupakan metode yang efektif untuk melatih daya ingat serta kecepatan berpikir siswa karena menuntut kemampuan mengingat proses perhitungan secara cepat.
“Metode mencongak berfungsi untuk mengasah kemampuan ingatan dan kecepatan berpikir siswa. Hal ini dikarenakan mereka akan berlatih untuk cepat mengingat apa yang telah mereka hafalkan,” katanya.
Baca Juga: Penggemar Berat Matematika, Mahasiswa Ubaya Bikin Ilustrasi Natal dari Kurva dan Ratusan Persamaan
Kecepatan mencongak merujuk pada waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan perhitungan hanya dengan ingatan atau secara mental, tanpa menuliskan langkah-langkahnya. Metode ini menuntut ketepatan sekaligus kecepatan dalam menjawab soal. Umumnya, mencongak diterapkan pada materi dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. (rra/fir)
Editor : M Firman Syah