Radar Surabaya - Kerja lintas generasi kini menjadi pemandangan lumrah di berbagai kantor, industri kreatif, hingga komunitas profesional. Milenial dan Generasi Z kerap dipersepsikan sebagai kombinasi tim yang solid karena sama-sama adaptif terhadap teknologi dan memiliki pandangan hidup yang relatif progresif. Namun di balik kedekatan itu, perbedaan prinsip dan gaya kerja kerap memunculkan gesekan.
Secara karakter, kedua generasi ini memiliki banyak kesamaan. Tumbuh di era internet, keduanya terbiasa dengan komunikasi digital, terbuka terhadap isu kesehatan mental, serta menjunjung keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Kesamaan ini membuat pola kerja menjadi lebih fleksibel dan egaliter.
Laporan Deloitte Global 2023 Gen Z and Millennial Survey mencatat bahwa Milenial dan Gen Z sama-sama menempatkan work-life balance, makna kerja, serta lingkungan kerja yang suportif sebagai prioritas utama, bahkan di atas besaran gaji. Deloitte menyebut, kedua generasi tengah mendefinisikan ulang makna bekerja dengan menempatkan kesejahteraan dan tujuan hidup di atas jalur karier konvensional.
Meski demikian, dinamika kerja keduanya tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pengalaman hidup membentuk cara pandang yang berbeda pula. Milenial yang tumbuh di masa krisis ekonomi cenderung menjunjung stabilitas dan kerja keras jangka panjang. Sementara Gen Z, yang lahir di era media sosial dan arus informasi cepat, lebih menekankan produktivitas, fleksibilitas, serta kesehatan mental.
Baca Juga: Tak Lagi Tunggu Rambut Memutih, Gen Z dan Milenial KIni Ramai-Ramai Menabung Haji
Psikolog sosial menyebut kondisi ini sebagai konflik gaya kerja antargenerasi. Profesor Jean Twenge, peneliti generasi dari San Diego State University, dalam bukunya Generations (2023) menjelaskan bahwa setiap generasi membentuk ekspektasi kerja berdasarkan konteks zaman yang mereka alami. Perbedaan ekspektasi inilah yang kerap memicu salah paham di lingkungan kerja.
Dalam praktiknya, Milenial sering dipersepsikan Gen Z sebagai terlalu kaku atau rentan terhadap overwork. Sebaliknya, Gen Z kerap dianggap kurang loyal atau terlalu santai oleh Milenial. Padahal, keduanya memiliki tujuan serupa, yakni bekerja secara produktif tanpa mengorbankan kualitas hidup.
Baca Juga: Gen Z Lebih Rentan Alami Gangguan Tidur Dibanding Milenial, Ini Penjelasan Psikolog
Para ahli menilai perbedaan tersebut bukanlah hambatan permanen. Dengan komunikasi terbuka dan saling memahami latar belakang pengalaman masing-masing, kolaborasi lintas generasi justru dapat menjadi kekuatan. Perpaduan pengalaman Milenial dan inovasi Gen Z dinilai mampu membentuk tim kerja yang adaptif dan tangguh.
Pada akhirnya, hubungan Milenial dan Gen Z ibarat saudara dekat. Kerap berbeda pandangan, namun tetap saling melengkapi dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah. (sry/fir)
Editor : M Firman Syah