RADAR SURABAYA - Dunia fashion terus melahirkan tren baru yang unik dan menarik perhatian generasi muda. Setiap tahunnya, tren baru muncul, tren lama juga bisa kembali melambung dengan penyesuaian zaman.
Salah satunya adalah gorpcore, gaya berpakaian yang menyerupai pakaian pendaki gunung namun digunakan sebagai streetwear sehari-hari.
Meski tampak fungsional, gorpcore sejatinya bukan dirancang untuk aktivitas mendaki sungguhan, melainkan untuk gaya hidup urban yang mengutamakan kenyamanan dan estetika.
Gorpcore sendiri merupakan tren fashion yang memanfaatkan pakaian outdoor seperti jaket puffer, fleece, hiking boots, hingga perlengkapan teknis, tetapi dipakai dalam kehidupan sehari-hari di perkotaan.
Istilah “gorpcore” berasal dari akronim GORP (Good Old Raisins and Peanuts), camilan populer para pendaki.
Tren ini pertama kali diperkenalkan oleh Jason Chen melalui artikel di The Cut pada 2017 dan semakin populer di era 2020-an, terutama saat pandemi COVID-19 ketika masyarakat mencari pakaian yang nyaman, fungsional, sekaligus stylish.
Popularitas gorpcore didorong oleh selebriti dan influencer yang mengenakan jaket outdoor atau sepatu hiking sebagai bagian dari gaya sehari-hari.
Media sosial seperti TikTok dan Instagram turut mempercepat penyebaran tren ini, menjadikannya bagian dari budaya urban global.
Brand outdoor seperti The North Face, Patagonia, dan Arc’teryx pun ikut masuk ke ranah streetwear, memperkuat posisi gorpcore sebagai tren fashion yang digemari.
Namun, meski terinspirasi dari pakaian pendaki, gorpcore tidak dirancang untuk aktivitas outdoor ekstrem.
Banyak produk gorpcore hanya meniru tampilan teknis tanpa fitur tahan air, tahan angin, atau insulasi yang memadai.
Jika dipaksakan digunakan untuk mendaki gunung, pakaian ini bisa menimbulkan risiko keselamatan seperti hipotermia, cedera, atau ketidaknyamanan serius.
Gorpcore lebih menekankan gaya visual daripada fungsi perlindungan di alam bebas. Gorpcore harus dipahami sebagai tren gaya hidup, bukan perlengkapan outdoor. Gorpcore itu menarik karena membawa nuansa outdoor ke dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi penting dipahami, ini bukan gear pendakian sungguhan. Kalau dipakai di gunung, bisa berbahaya karena tidak memenuhi standar perlengkapan outdoor.
Namun sayangnya, seiring naik daunnya aktivitas menjadi gunung alias banyak pendaki yang FOMO (fear of missing out atau takut ketinggalan tren), banyak pendaki pemula yang belum paham akan outfit aman untuk mendaki gunung justru mengenakan pakaian gorpcore ini.
Dimana gunung tak lagi menjadi tempat untuk menikmati dan menghargai alam lagi, tapi berubah menjadi panggung fashion dan latar konten media sosial.
Banyak pendali FOMO yang datang ke gunung dengan outfit stylish gorpcore ini tanpa paham apakah itu aman.
Meski terinspirasi dari pakaian pendaki, tren ini lebih cocok untuk gaya hidup perkotaan dan bukan untuk aktivitas mendaki sungguhan.
Memahami batasan antara fashion dan fungsi menjadi penting agar tidak menimbulkan risiko keselamatan. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari