RADAR SURABAYA – Dunia musik Indonesia beberapa waktu terakhir berduka atas wafatnya vokalis band Element, Lucky Widja. Almarhum meninggal akibat komplikasi gangguan ginjal yang dipicu tuberkulosis (TB) ginjal, penyakit yang telah dideritanya sejak 2022. Kasus ini kembali membuka mata publik bahwa TB tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mengenai organ lain.
Selama ini, tuberkulosis lebih dikenal sebagai penyakit infeksi paru dengan gejala batuk berkepanjangan. Padahal, bakteri penyebab TB juga bisa menyerang organ di luar sistem pernapasan. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Erlina Burhan, menjelaskan bahwa TB merupakan penyakit yang bersifat sistemik.
“Selain paru, kuman TB bisa menyerang semua organ termasuk ginjal,” ujarnya.
Baca Juga: Dunia Musik Berduka, Lucky Widja Vokalis Element Meninggal Dunia
Kondisi tersebut dikenal sebagai TB ekstraparu, yakni tuberkulosis yang menyerang organ selain paru-paru. Salah satu bentuknya adalah TB ginjal, penyakit yang masih relatif jarang dikenali masyarakat. TB ginjal menyerang ginjal dan saluran kemih, serta kerap berkembang secara perlahan tanpa gejala khas pada fase awal. Akibatnya, banyak penderita baru terdiagnosis ketika fungsi ginjal sudah mengalami gangguan.
Tuberkulosis merupakan penyakit menular akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis dan hingga kini masih menjadi persoalan kesehatan global, terutama di negara berkembang. Hal ini dijelaskan dalam jurnal ilmiah Chronic Kidney Disease Related to Renal Tuberculosis: A Case Report yang dipublikasikan di SciELO Brasil.
Dalam publikasi tersebut disebutkan bahwa sekitar 10 hingga 42 persen kasus TB merupakan TB ekstraparu, dengan ginjal menjadi salah satu organ yang paling sering terdampak setelah pleura dan kelenjar getah bening.
Baca Juga: Gawat! Mikroplastik Ditemukan dalam Darah, Paru-Paru, Hingga Cairan Ketuban Manusia
TB ginjal umumnya terjadi akibat penyebaran bakteri dari paru-paru ke ginjal melalui aliran darah. Risiko penyakit ini meningkat pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi rendah, serta mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
Selain itu, meningkatnya kasus resistensi obat TB juga dapat memperberat infeksi dan memicu penyebaran ke organ lain. Penularan dilaporkan dapat terjadi melalui sistem limfatik maupun jalur seksual.
Masih mengacu pada sumber yang sama, penanganan TB ginjal pada prinsipnya mengikuti standar terapi tuberkulosis. Terapi dilakukan dengan kombinasi obat antituberkulosis seperti isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol untuk membasmi bakteri sekaligus mencegah resistensi. Lama pengobatan umumnya berlangsung selama enam hingga sembilan bulan, menyesuaikan kondisi klinis pasien.
Baca Juga: Fakta di Balik Klaim Nanas Bisa Bersihkan Paru-Paru Perokok, Ini Penjelasan Medisnya
Selama terapi, pasien biasanya dipantau oleh dokter spesialis ginjal untuk menilai perkembangan penyakit dan respons terhadap pengobatan. Sejumlah obat TB juga diketahui berpotensi menimbulkan efek samping, termasuk gangguan fungsi ginjal dan hati. Karena itu, pasien dianjurkan segera melaporkan setiap keluhan baru selama masa pengobatan.
Diagnosis dini dan terapi yang tepat menjadi kunci penanganan TB ginjal, khususnya pada pasien dari wilayah endemik TB yang mengalami keluhan saluran kemih berkepanjangan dan tidak kunjung membaik. (shf/fir)
Editor : M Firman Syah