Surabaya — Isu kesehatan mental di kalangan Generasi Z kian menonjol seiring menguatnya budaya kerja berlebihan atau hustle culture. Di satu sisi, generasi ini dikenal vokal mengampanyekan self-care dan well-being. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang justru terjebak dalam pola toxic productivity, yakni dorongan untuk terus produktif tanpa ruang jeda yang sehat.
Sejumlah riset menunjukkan bahwa tekanan mental yang dialami Gen Z bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan sudah masuk kategori serius. Studi global yang dilakukan Deloitte pada 2022 mencatat sekitar 46 persen Gen Z melaporkan tingkat stres berlebihan dan burnout yang tinggi. Angka tersebut lebih besar dibanding generasi sebelumnya dan menjadi sinyal kuat bahwa produktivitas toksik telah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Baca Juga: Generasi Z Tolak Budaya Hustle, Work-Life Balance Jadi Standar Baru di Perusahaan
Toxic productivity dipahami sebagai kondisi ketika seseorang merasa harus selalu produktif di semua aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga waktu luang. Tekanan sosial untuk terus bergerak dan mencapai target membuat istirahat kerap dipersepsikan sebagai bentuk kemalasan, bahkan memunculkan rasa bersalah.
Fenomena ini menjadi perhatian kalangan psikolog dan peneliti budaya. Psikolog Devon Price menyebut produktivitas toksik lahir dari konstruksi sosial yang memuja kerja berlebihan sebagai ukuran nilai diri. Akibatnya, waktu istirahat tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan, melainkan dianggap sebagai kegagalan personal.
Kondisi tersebut diperparah oleh keterhubungan digital yang nyaris tanpa batas. Dalam artikel akademik bertajuk Burnout Digital: Keterhubungan Konstan pada Mental Gen Z, para peneliti mencatat bahwa media sosial menjadi ruang validasi sosial yang menuntut konsistensi performa. Tekanan untuk selalu tampil aktif dan produktif secara daring memicu kelelahan mental berkepanjangan.
Baca Juga: Paparan Gadget Berlebihan Sebabkan Anak Lima Kali Lebih Rentan Gangguan Mental
Data global lain menguatkan kekhawatiran tersebut. Laporan dari MetLife menyebut hanya sekitar 31 persen pekerja Gen Z yang merasa sehat secara holistik. Hampir separuhnya mengaku mengalami stres dan burnout dalam rutinitas kerja.
Dari sisi sosial, riset yang dilakukan Gloo dan Barna Group menemukan Gen Z menghadapi kecemasan, kesepian, serta kerinduan akan hubungan yang lebih autentik di tengah intensitas koneksi digital. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan emosional mereka.
Ironisnya, meski kesadaran akan pentingnya kesehatan mental cukup tinggi, praktik self-care di kalangan Gen Z kerap terdistorsi. Narasi media sosial membuat healing tak jarang bergeser menjadi aktivitas konsumtif, bukan proses pemulihan yang substansial.
Baca Juga: Tren Percintaan Gen Z, Terlihat Romantis tapi Sebenarnya Toxic dan Manipulatif
Para ahli menilai, diperlukan pendidikan berkelanjutan tentang keseimbangan hidup serta dukungan kesehatan mental di sekolah maupun tempat kerja. Tujuannya agar Generasi Z tidak semata-mata mengejar produktivitas, tetapi juga memiliki ruang aman untuk beristirahat dan memulihkan kesehatan mental secara utuh. (sry/fir)
Editor : M Firman Syah