Radar Surabaya – Di tengah arus tren mode yang serba cepat dan mencolok, Generasi Z justru memilih untuk melambat. Gaya berpakaian poetcore dengan bahan lembut, potongan longgar, serta sentuhan busana bernuansa vintage kini menjadi medium anak muda untuk mencari kenyamanan sekaligus mengekspresikan diri secara lebih personal.
Dalam dunia mode, gaya pada dasarnya bergerak dalam siklus berulang. Apa yang pernah dianggap usang pada satu masa dapat kembali dimaknai sebagai sesuatu yang menarik oleh generasi berikutnya. Pola tersebut terlihat jelas dalam kemunculan tren poetcore yang kini digemari Gen Z.
Baca Juga: Tren Fashion 2026: Minimalisme Tergeser, Gaya Dramatis dan Berkelanjutan Jadi Primadona
Alih-alih tampilan pesta yang mencolok, para penggemar mode muda memilih gaya yang lebih tenang dan lembut. Material seperti tweed, rajutan, hingga busana yang mengingatkan pada pakaian generasi terdahulu kembali populer. Sweater oversized, blazer lawas, tas selempang, hingga kerah renda menjadi elemen yang kerap muncul dalam gaya ini.
Lebih dari sekadar tren fashion, poetcore mencerminkan kerinduan terhadap kelembutan, tanggung jawab, serta ritme hidup yang lebih lambat di tengah dunia digital yang serba instan. Estetika ini juga dipandang sebagai bentuk penolakan halus terhadap dominasi logo besar, busana minim, dan perburuan tren yang berlebihan.
Baca Juga: Kenalkan Identitas Baru lewat Fashion Show, Atlet hingga Difabel Umsura Ikut Tampil
Sejumlah selebriti turut mengadopsi gaya ini dalam beberapa tahun terakhir. Aktris Jenna Ortega, pemeran Wednesday, terlihat mengenakan blazer bergaris dan celana ketat senada saat promosi film. Sementara Taylor Swift mengusung estetika poetcore dalam album The Tortured Poets Department, memadukan mantel tweed, sweater nyaman, serta rok mini dan rok kotak-kotak berlipit.
Stylist pribadi sekaligus pendiri The Closet Compass, Sabrina Morin, menilai gaya ini menghadirkan makna tanpa harus menarik perhatian secara berlebihan.
"Poetcore tidak menghindari kenyataan, melainkan berintegrasi ke dalamnya, Anda dapat mengenakannya untuk bekerja, makan malam, atau saat berada di jalan tanpa merasa seolah sedang berperan dalam skenario tertentu," ujarnya.
Baca Juga: Lestarikan Budaya, Universitas Ciputra Surabaya Gelar Fashion Show di Candi Prambanan
Ia menambahkan, tampilan tersebut merepresentasikan perlambatan budaya yang lebih luas. "Sebagai sebuah komunitas, kita mulai merasakan kerinduan terhadap masa lalu. Setelah bertahun-tahun mengenakan busana yang sangat 'akademis', gayanya menjadi lebih lembut setelah COVID, beralih ke tekstur yang berlapis, siluet yang romantis, dan kenyamanan. Terdapat pula sebuah pemberontakan yang halus yang terwujud dalam penampilan ini."
Tren poetcore cenderung mengedepankan siluet mengalir, bahan alami, serta kombinasi warna lembut yang nyaman dikenakan, bukan tampilan yang terasa seperti kostum. Penampilannya cukup rapi untuk aktivitas sehari-hari, namun tetap sederhana dan tidak berlebihan. (rra/fir)
Editor : M Firman Syah